Puisi Jadi Ruang Refleksi dan Harapan di tengah Dinamika Dunia

  • 10 Apr 2026 10:47 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Perbincangan mengenai kondisi dunia yang penuh dinamika menjadi tema menarik dalam program Ruang Sastra bertajuk “Akankah Dunia Akan Baik-Baik Saja?”. Di tengah berbagai kegelisahan, karya sastra, khususnya puisi, dinilai tetap menghadirkan harapan dan ruang refleksi bagi manusia.

Hal tersebut disampaikan oleh Elly Rahmah dan Legi Artisa dalam siaran di RRI Pro4 Banjarmasin, Kamis, 9 April 2026. Keduanya menilai, berbagai kegelisahan terhadap masa depan dunia kerap menjadi sumber inspirasi bagi para penulis, termasuk dalam melahirkan karya puisi.

Elly Rahmah, penyair yang telah lama berkecimpung di dunia sastra, mengungkapkan bahwa puisi lahir dari kepekaan terhadap situasi sekitar. Menurutnya, berbagai kegelisahan dan pengalaman yang dirasakan menjadi sumber utama dalam melahirkan sebuah karya.

“Biasanya pecinta sastra merasakan riuhnya isi kepala dalam keheningan, banyak ide dan perasaan yang ingin disampaikan melalui karya,” ujarnya. “Puisi menjadi cara manusia berbicara dengan hatinya sendiri.”

Menurutnya, ketika dunia terasa gaduh dan penuh persoalan, puisi hadir sebagai pengingat bahwa masih ada ruang untuk merenung dan berharap. Hal itu ia tuangkan dalam puisi berjudul “Aku Ingin Bertanya Kepadamu, Kawan” dan “Apakah Dunia Akan Baik-Baik Saja?” yang ditulis pada awal April 2026.

Puisi tersebut menggambarkan keresahan terhadap kondisi sosial yang masih diwarnai kesenjangan. Di satu sisi ada yang kekurangan, sementara di sisi lain terdapat pihak yang mempertontonkan kemewahan tanpa kepedulian.

“Mengungkapkan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan adalah bagian dari fungsi puisi,” kata Elly. “Seperti halnya berita, puisi juga menjadi media untuk mengekspresikan berbagai persoalan.”

Meski dunia menghadapi berbagai tantangan, puisi diyakini mampu menjadi jembatan untuk merawat optimisme. Elly berharap masyarakat tidak hanya memandang dunia dari sisi kegelisahan, tetapi juga melihat adanya harapan.

Sementara itu, Legi Artisa, mahasiswa pecinta sastra, menilai bahwa sastra memiliki kekuatan dalam menjaga empati di tengah perubahan zaman yang cepat. Puisi, menurutnya, mampu merekam suara-suara kecil yang sering terlewat dalam hiruk pikuk kehidupan modern.

Ia turut membacakan puisi bertema isu sosial, seperti “Syair Mata Batin” karya W.S. Rendra dan “Membaca Tanda-tanda” karya Taufik Ismail. Kedua puisi tersebut menggambarkan kepekaan terhadap kondisi sosial serta menjadi refleksi atas berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.

“Puisi mungkin tidak secara langsung mengubah dunia,” ujarnya. “Namun, puisi dan seni dapat mengubah cara seseorang memandang dunia.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....