Kemasan dan Branding Tentukan Nilai Jual UMKM

  • 19 Sep 2026 07:48 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Kemasan bukan hanya pembungkus produk tetapi merupakan bagian penting dari identitas usaha yang dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap nilai jual produk.
  • Pelaku UMKM harus memilih kemasan dan strategi branding yang disesuaikan dengan karakter produk dan target pasar yang dituju untuk meningkatkan daya tarik konsumen.
  • RRI Pro4 Banjarmasin mengadakan program Ruang UMKM bersama PERWIRA untuk memberikan edukasi tentang pentingnya kemasan dan branding dalam mengembangkan usaha mikro kecil menengah.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus produk, tetapi juga menjadi bagian dari identitas usaha yang dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap nilai jual produk. Bagi pelaku UMKM, pemilihan kemasan dan branding perlu disesuaikan dengan karakter produk serta target pasar yang dituju.

Hal tersebut dibahas dalam program Ruang UMKM RRI Pro4 Banjarmasin bersama PERWIRA (Perempuan Wirausaha), Selasa, 15 September 2026. Siaran bertema “Packaging & Branding: Kenapa Kemasan Menentukan Nilai Jual?” menghadirkan Ketua DPC PERWIRA Kota Banjarmasin, Fithry Wulandari.

Fithry Wulandari mengatakan, perubahan kemasan dapat dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan usaha. Pelaku UMKM yang baru memulai usaha tidak harus langsung menggunakan kemasan berbiaya tinggi karena kemasan sederhana tetap dapat terlihat menarik melalui desain dan informasi produk yang tepat.

Ia mencontohkan pengembangan Wulan Pantry yang memproduksi berbagai makanan dan camilan, salah satunya keripik salju. Produk tersebut pada awalnya menggunakan kemasan transparan sederhana dengan stiker sebagai identitas, kemudian dikembangkan menjadi kemasan yang lebih praktis dengan desain cetak penuh untuk menyesuaikan target pasar ritel modern.

“Kalau mau masuk retail modern, mau tidak mau kita harus naik kelas. Kita tidak bisa membiarkan produk dengan kemasan dibungkus seadanya,” ujar Wulan.

Menurutnya, branding dan kemasan perlu mempertimbangkan target konsumen serta saluran penjualan yang dituju. Pelaku usaha perlu menentukan pasar produknya sebelum menetapkan bentuk, ukuran, desain, dan informasi yang dicantumkan pada kemasan.

Wulan mengatakan, kemasan sederhana tetap dapat menjadi pilihan bagi UMKM. Hal terpenting adalah memastikan stiker atau label memiliki ukuran dan desain yang mampu menampilkan identitas serta informasi produk secara jelas.

“Tidak harus yang full print. Saya lihat yang sederhana, yang transparan juga bagus. Cuma untuk bikin stikernya harus disesuaikan,” kata Wulan.

Selain nama dan logo, informasi seperti komposisi, nama produk, identitas merek, dan keterangan lain yang diperlukan konsumen juga perlu dicantumkan secara jelas. Informasi tersebut membantu konsumen mengenali produk sekaligus memperkuat identitas usaha.

Wulan mengaku mendapatkan banyak referensi kemasan dari produk UMKM di luar daerah. Ia memanfaatkan media sosial untuk mencari penyedia kemasan, membandingkan model dan harga, kemudian menyesuaikannya dengan kemampuan usaha.

Menurutnya, salah satu tantangan pelaku UMKM di Kalimantan Selatan adalah keterbatasan pilihan penyedia kemasan dengan harga terjangkau. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha harus memesan kemasan dari luar daerah, termasuk dari Pulau Jawa.

“Kalau di Kalimantan agak susah untuk packaging. Memang ada rumah kemasan, tetapi mereka juga terbatas untuk membuat kemasan UMKM,” ujar Wulan.

Ia menambahkan, pemesanan kemasan dari luar daerah membutuhkan perencanaan lebih awal karena adanya waktu produksi dan pengiriman. Pelaku UMKM perlu memperhitungkan jumlah pesanan, biaya kemasan, ongkos kirim, dan kemampuan penjualan agar pengadaan tidak membebani modal usaha.

Wulan mulai menggunakan kemasan cetak penuh untuk salah satu produknya sejak 2023. Penyedia kemasan tersebut membuat rancangan berdasarkan informasi dari pemilik usaha, mulai dari nama merek, nama produk, foto, komposisi, hingga informasi lainnya, dengan jumlah minimal pemesanan sekitar 100 kemasan pada salah satu penyedia.

Selain mengembangkan produk sendiri, pengalaman tersebut menjadi bekal Wulan dalam berbagi dengan sesama anggota PERWIRA. Wulan bergabung dengan organisasi tersebut sejak 2022 setelah mengikuti kegiatan bazar dan menilai komunitas dapat menjadi jembatan untuk memperoleh pengetahuan, jejaring, serta informasi mengenai pengembangan usaha dan perizinan.

“Melalui komunitas, melalui organisasi itulah jembatan kita untuk bisa berkembang lagi. Kalau tidak seperti itu, saya tidak tahu bagaimana cara pengurusan NIB, PIRT, izin edar, dan halal,” ujar Wulan.

Sebagai Ketua DPC PERWIRA Kota Banjarmasin, Wulan mendorong pelaku UMKM untuk saling belajar dan memanfaatkan jejaring komunitas. Menurutnya, peningkatan kualitas kemasan dan branding tidak harus dilakukan sekaligus, tetapi dapat dimulai dari hal sederhana dan disesuaikan dengan perkembangan produk, kapasitas produksi, serta target pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....