Listrik Padam, Aktivitas Musisi dan UMKM Terdampak

  • 10 Agt 2026 17:14 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Pemadaman listrik bergilir berdampak tidak hanya pada aktivitas rumah tangga tetapi juga merugikan sektor usaha kecil dan industri musik di Banjarmasin.
  • Ketua PAPPRI Kalimantan Selatan, Dino Sirajudin, M.Ed., menekankan bahwa gangguan pasokan listrik memengaruhi para musisi yang bergantung pada pertunjukan langsung di kafe dan tempat usaha sebagai sumber penghasilan.
  • Persoalan pemadaman listrik menjadi tema diskusi dalam siaran Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin pada tanggal 5 Agustus 2026 dengan fokus pada dampak ekonomi dan kreativitas.

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Pemadaman listrik bergilir tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada sektor usaha kecil dan industri musik. Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam siaran Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin, Rabu, 5 Agustus 2026, dengan tema “Listrik Lumpuh, Musik Tumbang”.

Ketua Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Kalimantan Selatan, Dino Sirajudin, M.Ed., mengatakan gangguan pasokan listrik turut memengaruhi aktivitas para musisi. Terutama bagi musisi yang mengandalkan pertunjukan langsung di kafe dan tempat usaha sebagai ruang berkarya sekaligus mencari penghasilan.

Menurut Dino, persoalan kelistrikan perlu dilihat tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga melalui kebijakan yang lebih luas. Ia menilai diperlukan langkah jangka panjang agar persoalan pemadaman listrik tidak terus berulang.

“Yang ingin saya sampaikan lebih kepada mengkritisi kebijakan induknya,” ujar Dino. “PLN saya lihat sebagai institusi pelaksana teknis.”

Dino mencontohkan pengalamannya ketika berada di Inggris selama sekitar 18 bulan. Ia mengaku tidak pernah mengalami pemadaman listrik selama berada di negara tersebut dan menilai kondisi itu tidak semata-mata disebabkan statusnya sebagai negara maju.

Menurutnya, pelayanan dasar seperti listrik, air, dan telekomunikasi semestinya menjadi perhatian utama dalam perencanaan pembangunan. Karena itu, diperlukan kebijakan dan investasi jangka panjang dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah.

Dampak pemadaman juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang menyediakan pertunjukan musik. Dino menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi sebuah kafe yang mengalami pemadaman listrik bergilir meski tempat tersebut memiliki generator set atau genset.

Ia menjelaskan, pertunjukan musik tetap ditiadakan karena penggunaan genset untuk perangkat musik membutuhkan bahan bakar lebih banyak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemadaman listrik dapat mengganggu kegiatan usaha sekaligus menghilangkan kesempatan musisi untuk tampil.

“Listrik lumpuh, musik pun tumbang. Tumbang dalam arti paling tidak sementara pemusik mereka tidak bisa main,” katanya.

Menurut Dino, dampak pemadaman listrik tidak berhenti pada persoalan penerangan. Para musisi lokal yang mengandalkan penampilan di kafe sebagai ruang berkarya dan memperoleh penghasilan juga ikut terdampak.

Selain musisi, pelaku usaha mikro dan pedagang kecil menjadi kelompok yang rentan mengalami dampak serupa. Tidak semua pelaku usaha memiliki genset sehingga ketika listrik padam, aktivitas produksi dan jual beli dapat terhenti atau harus dilakukan dengan penerangan seadanya.

Dino menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Ia mendorong sinergi antara pemerintah, PLN, dan berbagai pihak terkait untuk mencari solusi kelistrikan yang lebih berkelanjutan.

Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan kelistrikan yang memperhatikan kepentingan masyarakat secara luas. Menurutnya, pembenahan tidak seharusnya hanya dilakukan ketika gangguan terjadi, tetapi diarahkan pada upaya mencegah persoalan serupa kembali terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....