Dari Ramai ke Sepi: Kisah Pedagang Bertahan di Halaman Museum Lambung Mangkurat

  • 05 Mei 2026 13:23 WIB
  •  Banjarmasin

RR.CO.ID, Banjarmasin - Di halaman Museum Lambung Mangkurat, waktu seolah berjalan lebih pelan. Dulu, tempat ini dipenuhi tawa, obrolan hangat lintas generasi, dan alunan musik sederhana dari para musisi lokal yang menghidupkan malam. Kini, suasana itu tinggal kenangan.

Lampu-lampu masih menyala, tetapi tak lagi seramai dahulu. Dari yang semula dipadati 11 mobil kuliner pada awal 2024, kini hanya tersisa dua yang bertahan. Selebihnya, satu per satu memilih pergi.

Di antara yang masih bertahan adalah Suwarno, pedagang empek-empek. Di sela kesibukannya melayani pembeli yang datang tak seberapa, ia menuturkan kisah perjuangannya.

“Satu tahun setengah, Mas, saya merugi di sini. Teman-teman yang lain sudah tidak tahan dan pergi,” ujarnya pelan.

Suwarno mengaku tak benar-benar memahami penyebab menurunnya jumlah pengunjung. Namun, ia memilih tetap fokus pada apa yang bisa ia kendalikan, kualitas rasa dan pelayanan.

“Yang penting kita bertanggung jawab ke konsumen. Melayani sebaik-baiknya, termasuk menyediakan kursi dan payung kalau hujan,” katanya.

Konsep tempat yang terbuka memang menjadi tantangan tersendiri. Saat hujan turun, pengunjung kerap enggan datang. Ditambah lagi, semakin banyaknya pilihan tempat nongkrong di Banjarbaru membuat lokasi ini perlahan kehilangan daya tariknya.

Beban operasional pun kian terasa. Bahkan, Suwarno sempat terpikir untuk menjual mobil dagangannya. “Mobil ini hampir saya jual. Sudah tidak sanggup menutupi biaya. Sekarang dapat Rp200 ribu saja susah, tidak seperti dulu waktu awal buka,” ucapnya.

Meski begitu, menyerah bukan pilihan. Ia tetap membuka lapak setiap hari, dengan harapan kecil yang terus dijaga. Kini, hanya malam Sabtu dan Minggu yang sedikit memberi harapan. Di luar itu, suasana cenderung sepi. Namun bagi Suwarno, harapan tak boleh padam.

“Tidak ada pilihan selain tetap berjuang dan memberikan yang terbaik,” katanya.

Di tengah sepinya halaman museum, Suwarno dan satu pedagang lain masih bertahan, memilih menjaga nyala kecil dari tempat yang pernah begitu hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....