Menjemput Rezeki sejak Pagi, Kisah Arbani dan Saudah di Lapak Sederhana

  • 23 Mar 2026 08:18 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Saat sebagian warga masih menikmati pagi yang tenang, Arbani dan istrinya, Saudah, justru telah lebih dulu menjemput rezeki. Di tengah hangatnya sinar matahari yang menyelinap di sela pepohonan, keduanya setia menjaga usaha kecil mereka di pasar tradisional.

Pagi hari yang cerah menyapa Kota Banjarbaru, Senin 23 Maret 2016. Sinar matahari perlahan menembus sela-sela pepohonan, menghadirkan kehangatan yang lembut bagi aktivitas warga yang mulai bergerak sejak dini hari.

Sehabis salat subuh, Arbani dan Saudah bergegas meninggalkan rumah mereka di kawasan Murung Martapura menuju pasar tradisional di Jalan Jati, Banjarbaru. Di sana, mereka berjualan di sebuah lapak sederhana, hanya berupa meja kayu tanpa papan nama, namun dari tempat itulah, pasangan ini telah menggantungkan harapan hidup selama lebih dari delapan tahun.

Saudah melayani pesanan pembeli dengan memotong kue petah di lapak jualannya di Banjarbaru.. Senin 23 Maret 2016 (Foto: rri.ci.id/Herry)

Aneka jajanan tradisional seperti jaring (jengkol), petah, kelepon, dan kikicak tersusun rapi di atas meja. Aroma khasnya mengundang pembeli yang datang silih berganti.

“Jangan ditanya mulai jam berapa kami menyiapkan ini. Yang pasti setelah subuh kami sudah berangkat ke pasar,” ujar Saudah sambil tersenyum.

Harga yang ditawarkan pun terjangkau. Jaring dijual mulai dari Rp10.000, sementara petah, kikicak, dan kelepon dibanderol Rp5.000 per bungkus. Meski sederhana, usaha tersebut menjadi sumber penghidupan yang terus mereka syukuri.

“Alhamdulillah, ada saja rezeki yang bisa dibawa pulang,” kata Saudah.

Bagi Arbani, kembali berjualan setelah Idulfitri adalah hal yang sudah biasa. Ia mengaku tetap berusaha menyeimbangkan antara mencari nafkah dan bersilaturahmi. “Siang sampai sore kami masih bisa berlebaran ke keluarga dan tetangga. Malamnya baru menyiapkan untuk jualan besok pagi. Walau capek, inilah jalan rezeki kami, alhamdulillah,” ucap Arbani.

Di balik meja kayu tanpa nama itu, tersimpan kisah ketekunan dan harapan. Arbani dan Saudah membuktikan, bahwa kerja keras dan rasa syukur mampu menghidupkan mimpi sederhana bahwa setiap pagi selalu membawa peluang baru bagi mereka yang tak pernah berhenti berusah

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....