Menjemput Rezeki dari Tahu, Perjuangan Amang Amat di Banjarbaru
- 16 Feb 2026 14:11 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarbaru - Pagi di kawasan banjarbaru belum sepenuhnya ramai ketika Muhammad (47), atau yang lebih akrab disapa Amang Amat, sudah bersiap memulai harinya. Dengan langkah tergesa namun penuh tekad, ia meninggalkan rumah kontrakannya demi satu tujuan, menjemput rezeki dari tahu yang akan dijualnya keliling kota.
Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan bertahan hidup. Di tengah keterbatasan pilihan pekerjaan, berjualan tahu menjadi satu-satunya ikhtiar yang bisa ia genggam dengan penuh syukur.
Setiap subuh, Amang Amat berangkat menuju gudang produksi tahu di kawasan Pasayangan, Martapura. Ia sengaja datang lebih awal agar bisa mendapat antrean pertama, meski tetap harus menunggu berjam-jam bersama pedagang lain.
| Baca juga: Warung Khadijah Laris selama Ramadan |
Sekitar pukul sembilan pagi, barulah pesanan tahunya siap diangkut. Dengan sabar, ia menyusun tahu-tahu putih itu di kendaraan bututnya yang setia menemaninya bertahun-tahun.
Tahu yang dijual Amang Amat dibanderol dengan harga relatif murah, Rp10.000 untuk sepuluh biji. Harga itu ia pertahankan agar tetap terjangkau bagi pelanggan, terutama ibu-ibu rumah tangga.
“Untungnya memang tidak seberapa, tapi yang penting bisa jalan terus. Saya cari berkahnya,” ujarnya lirih namun mantap.
Dengan kendaraan tuanya, ia menyusuri jalan-jalan Banjarbaru dari pagi hingga sore hari. Terik matahari dan hujan tak jarang menjadi teman perjalanan yang tak terelakkan.
“Kadang sehari habis, kadang juga masih sisa. Namanya usaha, rezeki itu tidak selalu pasti,” katanya sambil tersenyum tipis.

Di balik kesederhanaannya, Amang Amat memikul tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga. Dari hasil berjualan tahu itulah ia memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai sekolah kedua anaknya.
“Alhamdulillah, dari tahu ini saya bisa sekolahkan anak-anak. Saya tidak mau mereka putus sekolah seperti saya dulu,” tuturnya dengan nada tegar.
Namun hari-hari tak selalu ramah. Saat dagangan sepi, sementara tagihan sekolah dan uang sewa rumah jatuh tempo, beban pikiran terasa menyesakkan. “Kalau lagi sepi, sementara bayaran sekolah banyak dan sewa rumah harus dibayar, rasanya berat sekali. Tapi saya tidak boleh menyerah. Anak-anak yang bikin saya kuat,” ucapnya jujur.
Meski hidup dalam keterbatasan, Amang Amat tetap melangkah dengan penuh keyakinan. Baginya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk berusaha dan berharap.
Di balik tahu-tahu sederhana yang ia jajakan, tersimpan keteguhan hati seorang ayah yang tak pernah lelah berjuang demi masa depan anak-anaknya. Sebuah kisah kecil dari sudut Banjarbaru yang mengajarkan arti sabar, syukur, dan keteguhan dalam menjemput rezeki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....