Mengenal Fenomena Culture Shock dalam Kehidupan Masyarakat Banua

  • 05 Okt 2026 14:03 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pro 4 RRI Banjarmasin membahas fenomena gegar budaya atau culture shock di Banua, Minggu, 4 Oktober 2026.

Pembahasan menghadirkan Iberahim SH, Eddy Setiawan, dan Iin Al Mansor dalam siaran Ragam Budaya Suluh Banua.. Ketiganya membahas pengalaman beradaptasi dengan budaya, kebiasaan, serta tradisi yang ditemui dalam kehidupan masyarakat.

Iberahim menjelaskan, culture shock dapat terjadi ketika seseorang memasuki lingkungan dengan budaya yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Kondisi tersebut tidak hanya dialami pendatang yang datang ke Kalimantan Selatan, tetapi juga masyarakat Banjar ketika berinteraksi dengan budaya di daerah lain.

Menurutnya, perbedaan budaya juga dapat dirasakan antara masyarakat Banjarmasin dengan masyarakat di wilayah Hulu Sungai. Salah satu contohnya terlihat dari kebiasaan makan dan aktivitas setelah salat Subuh, termasuk kebiasaan masyarakat yang sudah mulai mawarung sejak pagi.

Perbedaan kebiasaan juga terlihat dalam cara berkomunikasi di jalan. Iberahim mencontohkan masyarakat Banjar yang terkadang membunyikan klakson sebagai tanda menyapa orang yang dikenal, sementara di daerah lain klakson dapat digunakan lebih sering untuk berbagai situasi lalu lintas.

Sementara itu, Iin Al Mansor yang berkecimpung dalam dunia seni dan budaya mengaku menemukan banyak hal dalam tradisi Banjar yang sebelumnya belum ia pahami. Ia kemudian melakukan riset untuk mengetahui makna di balik berbagai tradisi, termasuk penelitian mengenai busana penari Kuda Gepang.

“Sebagai pelaku seni, kok kenapa jadi baru tahu. Makanya akhirnya kami riset. Yang sekarang saya kerjakan itu tentang busana penari Kuda Gepang,” ujar Iin.

Iin juga menceritakan pengalamannya ketika berada dalam lingkungan keluarga Banjar. Penggunaan sapaan seperti Acil dan Amang pada awalnya terasa berbeda baginya, namun perlahan ia memahami makna sapaan tersebut sebagai bentuk kedekatan dan kasih sayang dalam hubungan kekeluargaan.

Pengalaman gegar budaya juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi, seperti penggunaan istilah tukar dan ungkapan minta rela. Iin menyebut sejumlah teman dari latar belakang berbeda yang telah lama tinggal di Banjar akhirnya terbiasa menggunakan ungkapan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Eddy Setiawan menilai, pengalaman berada di lingkungan sendiri membuatnya tidak banyak mengalami culture shock di Banua. Namun, ketika berada di daerah lain, ia menemukan perbedaan kebiasaan, termasuk dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Ia justru mengaku bangga melihat kuatnya keterlibatan masyarakat Banjar dalam kegiatan keagamaan.

“Ulun bangga di Banjar. Kelangan muda sampai tua itu semangat untuk turut menyukseskan acara. Banyak Gen Z yang ikut berkontribusi,” ujar Wawan. "keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial dan budaya masyarakat Banua."

Eddy menambahkan, kemampuan beradaptasi dapat dibangun melalui keterlibatan dalam komunitas. “Sebisa mungkin ulun bermanfaat di komunitasnya. Dari kebermanfaatan itu, ulun bisa menjalin komunikasi dengan anggota yang lain dan beradaptasi,” katanya. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan budaya tidak selalu menjadi hambatan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk memahami dan menghargai keberagaman di Banua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....