Tradisi Bahalarat Dikaji dalam Perspektif Spiritual Masyarakat Banjar
- 03 Okt 2026 20:11 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Tradisi bahalarat merupakan bagian integral dari kekayaan budaya masyarakat Banjar dengan dimensi sosial dan spiritual yang kuat.
- RRI Pro4 Banjarmasin mengadakan program Panderan Baisukan pada Jumat, 2 Oktober 2026 untuk mendiskusikan peran Al-Qur'an dan tradisi bahalarat dalam pemulihan spiritual.
- Program menghadirkan pembicara akademik dari UIN Antasari Banjarmasin termasuk Basori, M.Ag. dan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Putri Zulaikha.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi bahalarat menjadi salah satu bagian dari kekayaan budaya masyarakat Banjar yang memiliki dimensi sosial dan spiritual. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut juga mencerminkan cara masyarakat memaknai hubungan manusia dengan Tuhan dan kehidupan.
Hal tersebut dibahas dalam program Panderan Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 2 Oktober 2026, dengan tema “Al-Qur’an dan Tradisi Bahalarat sebagai Mekanisme Pemulihan Spiritual dalam Kosmologi Masyarakat Banjar”. Program tersebut menghadirkan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin, Basori, M.Ag., serta mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Putri Zulaikha.
Basori menjelaskan bahalarat dapat dipandang sebagai praktik sosial dan budaya yang memiliki dimensi spiritual. Menurutnya, masyarakat tidak hanya berupaya menyelesaikan persoalan secara lahiriah, tetapi juga mencari ketenangan batin melalui doa dan aktivitas keagamaan.
“Bahalarat dapat dipahami sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan,” ujar Basori. “Praktik tersebut juga menjadi bagian dari cara masyarakat mencari ketenangan dan kekuatan batin.”
Ia menerangkan bahwa tradisi masyarakat Banjar memiliki pertemuan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Karena itu, tradisi bahalarat perlu dipahami secara proporsional dengan memperhatikan sejarah, tujuan, dan keyakinan yang menyertainya.
“Kita perlu membedakan antara nilai budaya, pengalaman spiritual masyarakat, dan aspek keagamaan,” katanya. “Dengan demikian, masyarakat dapat memahami tradisi secara tepat tanpa mencampuradukkan budaya dengan ajaran agama.”
Sementara itu, Putri Zulaikha mengatakan keberadaan Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat Banjar tidak terbatas pada ruang ibadah formal. Ayat-ayat Al-Qur’an juga hadir dalam berbagai aktivitas masyarakat sebagai sumber petunjuk dan penguatan spiritual.
“Al-Qur’an bagi masyarakat tidak hanya dibaca, tetapi juga dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Putri. “Al-Qur’an menjadi sumber petunjuk sekaligus penguatan spiritual bagi masyarakat.”
Menurut Putri, pembacaan Al-Qur’an dan doa dalam suatu tradisi dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh ketenangan ketika menghadapi persoalan. Namun, pemaknaan terhadap praktik tersebut tetap perlu disertai pemahaman yang baik agar masyarakat dapat membedakan ajaran Al-Qur’an dengan tradisi yang berkembang.
Pembahasan tersebut menunjukkan tradisi bahalarat tidak hanya dapat dilihat dari sisi budaya, tetapi juga dari pengalaman sosial dan spiritual masyarakat Banjar. Pemahaman terhadap tradisi secara proporsional diharapkan dapat menjaga nilai budaya sekaligus memberikan ruang bagi penghayatan keagamaan dalam kehidupan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....