Dayak Bakumpai, Jembatan Penyebaran Islam dan Penjaga Warisan Budaya
- 03 Jul 2026 06:24 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Siaran Ragam Budaya RRI Pro4 Banjarmasin bersama IKASBA (Ikatan Kekeluargaan Antar Suku Bangsa) menghadirkan pembahasan tentang Suku Dayak Bakumpai pada Senin, 29 Juni 2026. Mengangkat tema "Tradisi Pekan Muharam Suku Dayak Bakumpai", membahas sejarah, identitas, hingga peran penting Dayak Bakumpai sebagai jembatan penyebaran Islam di Kalimantan.
Program tersebut menghadirkan narasumber dari IKASBA, yakni Dr. Drs. Masrani Noor, S.Ak., M.Si. (Kerukunan Keluarga Madura), Rakhmat Basuki (Kerukunan Keluarga Jawa Tengah), dan Ratu (Kerukunan Keluarga Banjar). Turut hadir Penasehat Itah Uluh Bakumpai (IUB) Pusat Anwari Delmi atau Amang Anwary bersama Damang Bakumpai Anjang Nuradin.
Anwari menjelaskan, Suku Dayak Bakumpai memiliki posisi strategis karena bermukim di kawasan pertemuan Sungai Barito dan Sungai Bahan di Marabahan. Lokasi tersebut menjadikan masyarakat Bakumpai sebagai penghubung aktivitas perdagangan sekaligus jalur penyebaran Islam menuju wilayah pedalaman Kalimantan.
"Suku Dayak Bakumpai itu menjadi jembatan syiar dakwah dari Kesultanan Banjar menuju pedalaman," ujar Anwari. "Sebagai informasi, Suku Dayak Bakumpai itu 100 persen Islam. Tidak ditemukan orang Suku Dayak Bakumpai yang tidak beragama Islam."
Ia menuturkan, masyarakat Bakumpai sejak dahulu dikenal gemar merantau untuk berdagang sekaligus berdakwah. Banyak tokoh Bakumpai juga dipercaya menjadi penasihat kerajaan di berbagai daerah aliran sungai besar, seperti Barito, Kapuas, Mahakam, Katingan, hingga Sambas, sehingga memberi pengaruh terhadap perkembangan Islam di Kalimantan.
Selain identik dengan Islam, Anwari menegaskan masyarakat Dayak Bakumpai tetap menjaga warisan budaya leluhur. Menurutnya, identitas utama suku tersebut terletak pada bahasa dan seni budaya yang terus diwariskan kepada generasi muda.
"Suku Dayak disebut Dayak apabila memiliki bahasa. Identitas pertama kami adalah bahasa, kemudian identitas kedua adalah seni budaya," ujarnya. "Apa yang menjadi budaya Banjar juga berakulturasi dengan budaya Bakumpai, tetapi kami juga memiliki seni budaya sendiri seperti Menyanggar, Badewa, dan tradisi lainnya."
Menanggapi pandangan yang kerap mempertentangkan tradisi dengan ajaran agama, Anwari mengatakan masyarakat Bakumpai memandang budaya sebagai warisan yang harus dilestarikan tanpa menggeser nilai-nilai syariat Islam. Menurutnya, seni budaya dapat berjalan selaras dengan ajaran agama selama tidak bertentangan dengan akidah.
"Seni budaya dan agama bisa disandingkan selama kita memiliki keyakinan yang benar dan tidak tergelincir kepada kemusyrikan," ucapnya. "Kami memandang tradisi sebagai seni dan budaya yang harus dilestarikan, bukan pada aspek sakralitasnya."
Sementara itu, Anjang Nuradin menambahkan masyarakat Dayak Bakumpai hingga kini masih aktif melestarikan adat istiadat. Menurutnya, setiap pelaksanaan tradisi selalu melibatkan masyarakat, termasuk generasi muda yang secara sukarela ikut berpartisipasi.
"Anak-anak muda semuanya turut membantu setiap pelaksanaan adat. Bahasa Bakumpai juga tetap kami gunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai identitas kami," kata Anjang Nuradin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....