Lestarikan Warisan Budaya, Seni Topeng Banjar Didorong Masuk Pendidikan

  • 30 Jun 2026 11:43 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Keberlangsungan Seni Topeng Banjar di tengah perkembangan zaman saat ini menjadi perhatian berbagai pihak. Hal ini berkaca pada kondisi kesenian yang banyak berkembang di wilayah Barikin, Hulu Sungai Tengah tersebut dinilai sudah mulai jarang terlihat di ruang publik.

Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai upaya pelestarian agar warisan budaya asli Kalimantan Selatan ini dapat terus bertahan. Salah satu langkah yang kini tengah diupayakan adalah memasukkan kesenian tradisional ini ke dalam kurikulum pendidikan formal.

Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Rizal Pahmi, menyebut pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi. Rencana ini difokuskan untuk mendorong pengenalan Seni Topeng Banjar melalui kurikulum muatan lokal (mulok) di sekolah.

"Akan kami koordinasikan dengan Disdikbud Kalsel. Semoga ke depannya anak-anak bisa mengenal dengan adanya topeng banjar warisan budaya kita ini," ujarnya kepada awak media.

Selain lewat jalur sekolah, upaya pelestarian ini dinilai juga memerlukan keterlibatan aktif dari kalangan akademisi. Akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi, menilai kontribusi kampus bisa disalurkan melalui penelitian, pengabdian masyarakat, dan penerbitan literatur ilmiah.

Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu menjadikan Topeng Banjar sebagai objek kajian ilmu pengetahuan. Budhi mendorong mahasiswa maupun dosen untuk melakukan riset yang lebih mendalam karena potensi budaya lokal Kalsel masih sangat besar.

“Dari sisi akademisi, perlu diperbanyak penelitian, dokumentasi, dan pengabdian masyarakat. Sehingga Topeng Banjar juga dapat dipelajari sebagai ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Hingga saat ini, salah satu kendala yang dihadapi di lapangan adalah masih terbatasnya literatur yang membahas khusus mengenai Topeng Banjar. Oleh karena itu, penerbitan buku ilmiah dinilai penting untuk memperbanyak rujukan yang otentik.

"Selama ini yang saya temukan hanya satu buku referensi karangan Julak Larau atau Mukhlis Maman. Jadi masih terbatas referensi kita," kata Budhi menambahkan.

Keberadaan buku dan hasil penelitian tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi basis data yang kuat bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Data inilah yang akan menjadi acuan dalam menyusun berbagai kebijakan yang mendukung pelestarian budaya lokal.

Melalui upaya pelestarian dengan jalur pendidikan ini, kesenian banua tersebut diharapkan dapat tetap bertahan di tengah arus zaman. Sinergi berbagai pihak menjadi kunci utama agar generasi muda tidak kehilangan identitas budaya lokal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....