IKASBA Perkuat Pelestarian Budaya Ponorogo di Kalimantan Selatan
- 14 Jul 2026 18:23 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Budaya Ponorogo merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang kaya akan nilai tradisi dan kearifan lokal. Pelestariannya terus dilakukan, termasuk oleh masyarakat perantauan yang tergabung dalam berbagai paguyuban di Kalimantan Selatan.
Hal tersebut disampaikan oleh Sutarno, Edi Hermawan, Rakhmad Basuki, S.E., dan Drs. Masrani Noor, S.Ak., M.Si. dalam acara Ragam Budaya IKASBA di RRI Pro4 Banjarmasin, Senin, 13 Juli 2026.
Sutarno dan Edi Hermawan yang mewakili Kerukunan Keluarga Ponorogo mengatakan pelestarian budaya terus dilakukan melalui berbagai kegiatan Pawargo (Perkumpulan Warga Ponorogo). Menurut mereka, Reog menjadi identitas budaya Ponorogo yang telah dikenal hingga mancanegara.
“Ponorogo itu identik dengan Reog, kesenian yang memang menjadi ikon budaya Indonesia dan sudah mendunia,” ujar Sutarno. “Karena itu, warisan budaya ini harus terus dikenalkan kepada generasi muda.”
Sutarno menambahkan, Reog tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mengandung nilai keberanian, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari jati diri masyarakat Ponorogo yang perlu terus diwariskan.
Sementara itu, Edi Hermawan menjelaskan bahwa dalam kesenian Reog terdapat beberapa unsur pertunjukan, seperti tari Jathilan, Ganongan, Klono, Warok, dan Reog. Menurutnya, ukuran topeng Reog juga disesuaikan dengan usia pemain, mulai tingkat SD hingga dewasa.
“Ukuran Reog juga beragam, ada untuk tingkat SD, SMP, SMA, hingga dewasa,” ujar Edi Hermawan. “Dengan begitu, anak-anak pun dapat mulai belajar sejak usia dini.”
Ia menambahkan, Ponorogo juga memiliki filosofi hidup yang sarat makna, yakni Sak bejo-bejone wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo. Ungkapan tersebut mengajarkan pentingnya selalu mengingat Tuhan, berhati-hati dalam bertindak, serta mawas diri dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, Drs. Masrani Noor, S.Ak., M.Si. yang mewakili Kerukunan Keluarga Madura menilai keberagaman budaya antarsuku justru memperkuat persaudaraan di Kalimantan Selatan. Menurutnya, setiap paguyuban dapat saling mendukung dalam melestarikan budaya masing-masing.
“Perbedaan budaya justru menjadi kekayaan untuk mempererat kebersamaan, bukan untuk dipisahkan,” ucap Masrani Noor. “Kita saling mendukung dalam berbagai kegiatan budaya.”
Pada kesempatan yang sama, Rakhmad Basuki, S.E. mewakili Kerukunan Keluarga Jawa Tengah mengatakan masyarakat juga dapat mengenal budaya melalui kuliner khas daerah. Ia menyebut Ponorogo memiliki berbagai makanan tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya, seperti sate Ponorogo, dawet Jabung, jenang mirah, dan pecel bercita rasa khas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....