Batumbang Apam, Warisan Budaya Religius Masyarakat Kalimantan Selatan

  • 21 Jun 2026 18:48 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi batumbang apam merupakan selamatan masyarakat suku Banjar sebagai bentuk rasa syukur atau penunaian nazar untuk anak-anak. Tradisi ini banyak dilakukan di kawasan Hulu Sungai, khususnya Hulu Sungai Tengah.

Akademisi UIN Antasari, Novy Listiana, M.H., membahas hal tersebut dalam program Ragam Budaya Ruhui Barakatan RRI Pro4 Banjarmasin, Sabtu, 20 Juni 2026. Ia didampingi oleh kedua mahasiswanya, yaitu Pradika Fajar Ramadhan dan Lutfia Fitri Naila.

Novy menjelaskan bahwa tradisi batumbang apam sudah ada sejak sebelum Islam masuk ke Kalimantan Selatan. Tradisi ini merupakan hasil akulturasi antara kepercayaan atau budaya lokal yang kemudian berkembang sebagai media penyebaran agama Islam.

“Dalam tradisi batumbang apam ini, anak-anak dibawa ke masjid untuk dibacakan salawat dan ayat suci Al-Qur’an,” ujar Novy. “Tujuannya untuk memperkenalkan agama Islam sejak dini, sekaligus mendekatkan anak dengan tempat ibadah serta bacaan-bacaan Islami.”

Naila menambahkan pandangan dan pengalamannya mengenai pelaksanaan tradisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa batumbang apam biasanya digelar di masjid maupun di rumah, baik menjelang maupun setelah Hari Raya Idulfitri dan Iduladha.

“Kalau dilakukan di masjid, kita harus berkoordinasi dengan pihak pengelola masjid terlebih dahulu, kemudian membawa anak yang akan diselamati ke masjid,” ujar Naila. “Prosesinya, apam disusun sesuai dengan tinggi anak menggunakan pelepah kelapa yang telah dibersihkan, dengan ukuran yang sama seperti tinggi anak tersebut.”

Dalam prosesi tersebut, kue apam disusun sambil dibacakan Surah Yasin sebelum anak dinaikkan ke atas mimbar masjid yang memiliki lima anak tangga. Jumlah tangga ini melambangkan lima rukun Islam sebagai simbol harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah Swt.

Fajar menambahkan bahwa tradisi batumbang apam sangat efektif untuk menanamkan rasa cinta anak terhadap Islam. Melalui tradisi ini, anak diharapkan dapat senantiasa mencintai masjid tanpa adanya paksaan.

“Dengan adanya tradisi ini juga dapat terus menyambung tali silaturahmi,” ujar Fajar. “Karena nilai silaturahmi itu sangat kita perlukan sebagai makhluk sosial.”

Ketiga narasumber berharap tradisi batumbang apam dapat terus dilestarikan. Mereka juga berharap nilai-nilai keislaman dalam tradisi tersebut tetap terjaga dengan baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....