Revitalisasi Topeng Banjar Berpotensi Kembangkan Ekonomi Kreatif dan UMKM
- 19 Jun 2026 18:36 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Topeng Banjar merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Banjar yang dinilai perlu mendapat perhatian melalui upaya revitalisasi. Langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga kelestarian kesenian tradisional agar tetap dikenal generasi muda dan masyarakat luas.
Hal tersebut disampaikan dalam acara Kindai Banua, Kamis, 18 Juni 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Menghadirkan narasumber Rizal Pahmi, S.Sos., M.M., Muhammad Aris, S.Kom., M.M., dan Drs. H. Setia Budhi, M.Si., Ph.D.
Ketua Lembaga Adat Papikat Bakumpai, Drs. H. Setia Budhi, M.Si., Ph.D menjelaskan bahwa Topeng Banjar merupakan warisan budaya yang telah ada sejak masa Kesultanan Banjar. Menurutnya, Tari Topeng Bakumpai di Barito Kuala menjadi bagian dari ritual masyarakat yang pelaksanaannya dilakukan setiap tahun atau lima tahun sekali sesuai kesepakatan warga.
“Di Kalimantan Selatan hampir semua kabupaten memiliki Tari Topeng,” ujarnya. “Namun uniknya, topeng-topeng di semua daerah itu masih satu rumpun atau dalam istilah lokal disebut satu padatuan.”
Ia menambahkan bahwa meskipun berasal dari satu rumpun, setiap daerah memiliki keunikan tersendiri. Di Barikin misalnya, terdapat topeng yang bersifat sakral sehingga tidak boleh ditampilkan dalam pertunjukan karasmin, sedangkan di Bakumpai terdapat topeng yang dapat dipentaskan untuk hiburan masyarakat.
Menurutnya, pelestarian Topeng Banjar memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak. Pendampingan, pembinaan, dokumentasi, serta penyediaan ruang ekspresi bagi pelaku seni dinilai penting agar warisan budaya tersebut tetap terjaga.
Sementara itu, Kepala UPTD Taman Budaya Disdikbud Kalimantan Selatan, Rizal Pahmi, S.Sos., M.M mengatakan bahwa Taman Budaya Kalsel menjadi wadah pengembangan, pemanfaatan, dan pelestarian seni budaya daerah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah revitalisasi Tari Topeng Banjar sebagai bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.
“Ini adalah bagian dari revitalisasi dalam maharagu warisan leluhur,” kata Rizal Pahmi. “Salah satunya adalah seni Tari Topeng Banjar.”
Ia berharap Lokakarya Tari Topeng yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara SPSI, lembaga adat, dan berbagai pihak lainnya dapat memperkuat ekosistem seni budaya di Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melahirkan generasi penerus yang dapat menjaga tradisi Topeng Banjar.
Ketua Serikat Pemersatu Seniman Indonesia (SPSI) Kalimantan Selatan, Muhammad Aris, S.Kom., M.M juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, minimnya regenerasi pelaku seni Topeng Banjar menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.
Selain itu, berkurangnya jumlah pengrajin topeng dan perlengkapan pertunjukan juga menjadi persoalan yang memerlukan perhatian. Ia menilai pengembangan Topeng Banjar tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi.
“Jika dikembangkan, ini adalah peluang bagi UMKM,” ujar Muhammad Aris. “Karena memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya.”
Ia menambahkan, berbagai langkah revitalisasi telah disiapkan sebelum maupun sesudah kegiatan yang berlangsung pada 19 dan 20 Juni 2026 di Taman Budaya. Salah satunya dengan lebih masif mencari pembuat topeng, pelaku seni, serta zuriat mereka untuk menggali informasi dan mendokumentasikan warisan budaya tersebut sebagai media edukasi bagi masyarakat luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....