Peribahasa Banjar Jadi Media Pendidikan Karakter Generasi Muda
- 12 Jun 2026 10:06 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam pola komunikasi anak-anak dan remaja. Akses yang semakin mudah terhadap gawai dan permainan daring membuat mereka lebih sering terpapar berbagai ungkapan yang belum tentu sesuai dengan nilai kesantunan berbahasa.
Hal tersebut disampaikan Akademisi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, Khairunnisa, dalam acara Lentera Kehidupan di RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 5 Juni 2026. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi orang tua dan pendidik.
Ia mengatakan, siswa sekolah dasar menjadi kelompok yang paling rentan meniru bahasa yang didengar dari lingkungan digital. Pada usia tersebut, anak umumnya belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menyaring dan memahami makna dari setiap kata yang digunakan.
“Ketika sering mendengar suatu ungkapan, anak cenderung langsung menirukannya tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya,” ujarnya. “Karena itu, pendampingan dari keluarga dan sekolah sangat diperlukan.”
Khairunnisa menjelaskan, salah satu cara menjaga kesantunan berbahasa adalah dengan mengenalkan kembali peribahasa dan sastra daerah kepada generasi muda. Menurutnya, peribahasa merupakan warisan budaya yang mengandung nilai moral, etika, dan kearifan lokal.
Ia menambahkan, peribahasa termasuk dalam kajian sastra karena menggunakan bahasa kiasan untuk menyampaikan pesan kehidupan. Melalui ungkapan tersebut, masyarakat diajak memahami cara berkomunikasi yang santun dan penuh pertimbangan.
“Dalam budaya Banjar dikenal ungkapan baungap dulu baru baucap, yang mengajarkan seseorang untuk berpikir sebelum berbicara,” ujarnya. “Nilai ini menunjukkan karakter masyarakat Banjar yang berhati-hati dalam memilih kata agar tidak menyinggung atau menyakiti orang lain.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....