Makna Ikhlas Melepaskan dalam Semangat Iduladha
- 30 Mei 2026 09:39 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Program Ragam Budaya Ruang Sastra RRI Pro4 Banjarmasin, Kamis, 28 Mei 2026, mengangkat tema “Ikhlas Melepaskan”. Siaran ini menghadirkan pegiat sastra, Yuliyana, Alvian, dan Halipah, sebagai narasumber.
Alvian menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat untuk menyambut dan memaknai Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Menurutnya, Iduladha mengajarkan umat Muslim untuk beribadah dengan penuh keikhlasan serta memberi tanpa mengharapkan balasan.
“Merujuk pada kisah Nabi Ibrahim as. yang diperintahkan Allah Swt. untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as.,” kata Alvian. “Anak yang telah lama dinantikan itu harus dikorbankan sebagai bentuk ujian ketaatan kepada Allah Swt.”
Yuliyana menambahkan bahwa nilai keikhlasan menjadi inti dari peringatan Hari Raya Iduladha. Makna tersebut tercermin dalam pengorbanan yang dilakukan umat Muslim, salah satunya melalui ibadah kurban.
“Iduladha bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga simbol ketaatan total,” ujar Yuliyana. “Bisa jadi Ismail kita saat ini adalah harta, jabatan, atau apa pun yang harus kita korbankan demi taat kepada Allah Swt.”
Sementara itu, Halipah memaknai ikhlas sebagai kemampuan untuk melepaskan dan menerima segala ketentuan hidup, baik yang membawa kebahagiaan maupun kesedihan. Menurutnya, keikhlasan menuntut seseorang untuk memahami bahwa tidak semua hal dapat dimiliki selamanya.
“Melepaskan kebahagiaan misalnya, ada saudara kita yang mendapatkan pekerjaan tetapi harus merantau,” kata Halipah. “Meskipun sedih, kita harus tetap bahagia dan ikhlas karena mendukung impian orang yang kita sayangi.”
Melalui puisi berjudul Tidak Semua Kembali di Hari Raya, Yuliyana menyampaikan bahwa kata maaf yang terucap saat silaturahmi tidak selalu mampu menyembuhkan luka hati secara instan. Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua orang siap berdamai pada momen hari raya, terlebih ketika harus menghadapi berbagai pertanyaan yang terkadang menyinggung perasaan.
Sementara itu, melalui puisi Ikhlas, Alvian menggambarkan keikhlasan sebagai proses pendewasaan diri yang mampu mengikis berbagai sifat buruk manusia. Ia menegaskan bahwa menerima takdir dengan lapang dada merupakan salah satu bentuk kepercayaan bahwa Allah Swt. mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Halipah turut membacakan puisi berjudul Reruntuhan karya Sasa Arenta. Puisi tersebut mengisahkan bahwa mencintai seseorang secara utuh juga berarti siap menghadapi kemungkinan kehilangan dan merelakan kepergiannya.
Ketiga narasumber mengingatkan pentingnya menerima setiap keadaan yang terjadi dalam kehidupan. Apa pun warna perjalanan hidup yang dijalani, keikhlasan diyakini menjadi kunci untuk menjalani setiap proses dengan lebih tenang dan bermakna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....