Pengembaraan Panji di Kalimantan Selatan

  • 26 Mei 2026 08:36 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin: Kisah Panji yang lahir dari peradaban Jawa Timur ternyata memiliki jejak panjang hingga ke Kalimantan Selatan. Dalam program Ragam Budaya Sambung Roso Pro4 RRI Banjarmasin, Rabu, 20 Mei 2026, budayawan Ki Sulisno. S.Sn., M.A menjelaskan bahwa pengembaraan Panji bukan ada sekadar perpindahan cerita rakyat, melainkan perjalanan budaya Nusantara yang membentuk identitas masyarakat Banjar.

Menurut Ki Sulisno, cerita Panji merupakan salah satu narasi asli Nusantara yang berkembang sejak masa Kediri dan Majapahit. Berbeda dengan kisah Ramayana dan Mahabharata yang berasal dari India, Panji lahir dari pengalaman sosial masyarakat Jawa sendiri, dengan tokoh utama Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang digambarkan sebagai manusia biasa dengan perjalanan hidup penuh cinta, pengembaraan, dan pencarian jati diri.

“Panji mudah diterima masyarakat di berbagai daerah karena kisahnya dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Struktur ceritanya fleksibel dan dapat disesuaikan dengan budaya lokal,” ujar Ki Sulisno.

Ia menjelaskan, masuknya pengaruh Panji ke Kalimantan Selatan erat kaitannya dengan hubungan budaya dan politik antara Majapahit dan Kerajaan Negara Dipa pada masa lalu. Jalur sungai seperti Barito dan Martapura menjadi media penting penyebaran budaya, perdagangan, hingga seni pertunjukan.

Di tanah Banjar, cerita Panji tidak hadir sebagai budaya asing yang diterima begitu saja. Masyarakat lokal mengolah kembali kisah tersebut sesuai nilai, bahasa, dan karakter budaya Banjar hingga melahirkan bentuk-bentuk tradisi baru yang khas. Salah satu jejak paling nyata terlihat dalam tradisi Topeng Panji yang berkembang di sejumlah daerah seperti Banyiur Luar, Sei Getas, Tapin, dan Barikin.

Selain seni topeng, pengaruh Panji juga hidup dalam seni tutur Andi-andi yang berkembang di kawasan Meratus. Tradisi lisan ini menghadirkan kisah pengembaraan, pencarian pasangan, hingga perjalanan spiritual manusia yang dipadukan dengan kosmologi lokal masyarakat pegunungan.

Ki Sulisno menilai, keberadaan Topeng Panji dan Andi-andi menunjukkan bahwa Kalimantan Selatan memiliki posisi penting dalam jaringan budaya Nusantara. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu tumbuh melalui dialog dan pertemuan antardaerah, bukan melalui penolakan terhadap pengaruh luar.

Di tengah arus globalisasi, pelestarian budaya Panji dinilai semakin penting sebagai upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat. Panji bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga simbol keterhubungan budaya Nusantara yang terus hidup dalam seni, tradisi lisan, dan memori masyarakat Banjar hingga hari ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....