Mantra Banjar, Warisan Sastra Lisan Sarat Makna
- 10 Jul 2026 20:39 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Mantra merupakan salah satu warisan sastra lisan masyarakat Banjar yang telah hidup sejak masa lampau. Tradisi ini berkembang sebagai bagian dari budaya masyarakat dan mengalami perubahan seiring masuknya ajaran Islam ke Kalimantan Selatan.
Hal tersebut disampaikan akademisi Bahasa dan Sastra Banjar, Dr. Ida Komalasari, M.Pd., dalam program siaran berjaringan Suara Budaya Nusantara (SBN) yang diselenggarakan RRI Jakarta bersama RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu, 8 Juli 2026.
Ida menjelaskan bahwa mantra merupakan susunan kata yang dipercaya memiliki kekuatan gaib apabila diucapkan dengan cara, waktu, dan niat tertentu. Menurutnya, mantra digolongkan sebagai karya sastra karena memiliki unsur estetika bahasa yang khas.
"Mantra termasuk dalam sastra karena diucapkan dengan pola berulang, menggunakan kata-kata kiasan, kemudian ada permainan bunyi," ujarnya. "Jadi ada keindahan bahasa dan keteraturan bunyinya, serta diwariskan."
Ia menjelaskan, mantra berkembang dalam masyarakat Banjar akibat pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme pada masa lalu. Saat itu, mantra digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan alam, leluhur, maupun kekuatan gaib yang dipercaya dapat membantu memenuhi harapan atau menghindarkan bahaya.
Selain dipengaruhi sistem kepercayaan, keterbatasan pengetahuan dan teknologi pada masa lampau juga membuat masyarakat memanfaatkan mantra sebagai sarana menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Mantra digunakan dalam kegiatan bercocok tanam, berburu, pengobatan, hingga memohon perlindungan.
Menurut Ida, tradisi mantra di Kalimantan Selatan telah dikenal sejak masa Hindu-Buddha. Setelah Islam berkembang, banyak mantra mengalami proses akulturasi dengan memasukkan ayat-ayat Al-Qur'an dan Asmaulhusna tanpa menghilangkan pola sastra yang telah ada sebelumnya.
Ia menambahkan, mantra digunakan untuk berbagai tujuan, seperti pengobatan, perlindungan rumah dan ladang, memohon hujan, hingga pengasih. Namun, saat ini fungsi mantra di masyarakat Banjar telah banyak bergeser menjadi doa-doa yang tetap berlandaskan ajaran Islam.
Ida menegaskan bahwa penggunaan mantra tidak boleh bertentangan dengan ajaran tauhid. Menurutnya, masyarakat hendaknya tetap menjadikan Allah Swt sebagai tempat memohon pertolongan sehingga warisan budaya tersebut tidak mengarah pada praktik syirik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....