Akademisi UIN Antasari Soroti Pentingnya Empati

  • 08 Agt 2026 05:25 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Empati adalah kemampuan mental untuk memahami, meresapi, dan ikut merasakan pikiran, emosi, atau pengalaman orang lain dari sudut pandang mereka. Sikap ini membuat seseorang bisa menempatkan diri di posisi orang lain dan membangun hubungan sosial yang lebih kuat, hal ini sangat diperlukan diusia generasi Z yang rentang umurnya remaja hingga dewasa.

Secara umum, para ahli psikologi membagi empati menjadi tiga jenis utama yang pertama empati kognitif, kemampuan memahami perspektif dan cara berpikir orang lain secara rasional tanpa harus ikut merasakan emosinya. Hal ini disampaikan oleh Akademisi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjaramsin, Dr. Inna Muthmainah, MA., pada acara Lentera Kehidupan Jum’at 7 Agustus 2026.

“Selanjutnya empati emosional (Afektif) yaitu jenis empati dengan kemampuan ikut merasakan emosi atau kondisi fisik yang sedang dialami oleh orang lain secara mendalam & empati welas asih (Compassionate) yaitu jenis empati dengan kombinasi memahami dan merasakan, yang langsung mendorong seseorang untuk mengambil tindakan nyata untuk membantu." ujarnya.

Inna juga mengatakan membangun sikap empati pada generasi Z dimulai dengan beberapa pelatihan, yang pertama menjadi pendengar aktif dengan fokus mendengarkan tanpa menyela, membuat penilaian, atau sibuk memikikirkan kalimat balasan, karena pada dasarnya empati bukanlah sifat kaku, melainkan keterampilan sosial.

“Cara membangun empati pada generasi Z selanjutnya yaitu membaca bahasa tubuh, dengan memerhatikan ekspresi wajah, nada suara, dan gestur untuk menangkap emosi tersirat," ujarnya menambahkan.

Ia kembali menambahakan membangun empati dengan mengajukan pertanyaan terbuka dengan mengunakan pertanyaan yang memicu mereka bercerita lebih dalam, seperti "Bagaimana perasaanmu tentang hal itu?".

“Membangun empati juga dengan belajar menempatkan diri, dengan menanyakan pada diri sendiri bagaimana rasanya jika berada di posisi dan situasi sulit orang tersebut serta mampu mengepinggirkan asumsi atau stereotip negatif agar bisa melihat masalah dari sudut pandang mereka secara objektif.” Ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....