Gawi Tuntas TB, Sinergi ULM dan Puskesmas Perkuat Peran PMO

  • 21 Jun 2026 16:27 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Kompartemen Keperawatan Medikal Bedah (KMB) Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menginisiasi sebuah program intervensi pengabdian masyarakat terpadu melalui Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA). Program strategis yang diberi tajuk resmi "Gawi Tuntas TB: Gerakan Aksi dan Pemahaman Terpadu Untuk Tuntaskan Upaya Pengendalian TB" ini diselenggarakan secara intensif pada hari Sabtu, 20 Juni 2026.

Kegiatan pengabdian ini dipusatkan secara langsung di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Cempaka, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, sebagai perwujudan nyata dari hilirisasi riset keperawatan medikal bedah dalam memperkuat sistem kesehatan komunitas. Agenda diseminasi edukasi klinis dan pendampingan psikososial skala komunitas ini dipimpin langsung oleh Chrisnawati, BSN., MSN., yang bertindak selaku ketua tim pengabdi Jurusan Keperawatan FKIK ULM.

Formasi tim ilmiah ini diperkuat oleh jajaran dosen pengajar sekaligus peneliti senior spesialis keperawatan medikal bedah, antara lain Irfan Maulana, Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB, Yohana Agustina Sitanggang, S.Kep., Ns., M.Kep, dan Ken Rangga Galang Adiantara, S.Kep., Ns., M.Kep.

Kemitraan strategis di lapangan juga terjalin secara lintas profesi melalui keterlibatan aktif praktisi medis dan fungsional dari Puskesmas Rawat Inap Cempaka, yaitu dr. Rosni Yuniarti selaku Kepala Puskesmas Cempaka bersama dr. Rakhmad Khumaidi dan Ririn Nurdiyayanti, S.Kep., Ns. Kegiatan ini tidak hanya memobilisasi jajaran staf pengajar dan praktisi klinis senior, tetapi juga bersama empat mahasiswa keperawatan dari FKIK ULM, yakni Vanessa Dwi Indah, Muhammad Nurhuda Baihaqi, Hidayah Putri, dan Rufaida, turut diterjunkan sebagai agen edukator dan koordinator.

Kelompok sasaran yang menjadi fokus intervensi dibatasi secara cermat pada 30 peserta, yang mencakup para pasien rawat jalan penderita TB aktif beserta anggota keluarga terdekat yang memegang peran vital sebagai pendamping harian. Melalui kegiatan ini diharapkan mampu menjawab tantangan riil di tatanan pelayanan kesehatan primer terkait Tuberkulosis (TB) paru yang cukup tinggi di masyarakat karena merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat berskala global dan nasional yang memerlukan penatalaksanaan klinis secara komprehensif.

Upaya penanggulangan penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri patogen Mycobacterium tuberculosis ini sering kali menghadapi kendala besar pada pengetahuan dan pemeliharaan tingkat kepatuhan terapeutik pasien.

Dalam perspektif keperawatan medikal bedah, akar masalah utama kegagalan kesembuhan pasien infeksi respiratorik ini sangat berkorelasi dengan durasi regimen farmakologis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang harus dikonsumsi minimal selama enam bulan secara kontinu.

Pola pengobatan standar tersebut terbagi menjadi dua tahapan krusial, yaitu tahap intensif selama dua bulan pertama untuk mendepresi populasi bakteri aktif, serta tahap lanjutan selama empat bulan berikutnya guna mengeliminasi sisa kuman yang dorman. Panjangnya rentang waktu terapi farmakologis ini sering kali memicu kejenuhan psikologis berat, kelelahan fisik, keterbatasan aktivitas ekonomi, serta penurunan motivasi batin yang signifikan pada diri penderita.

Banyak fenomena klinis menunjukkan bahwa pasien cenderung menghentikan konsumsi obat secara sepihak tanpa instruksi tenaga medis ketika merasakan kondisi tubuhnya mulai membaik atau batuk kronisnya mereda. Kelalaian terapeutik pada fase transisi ini berakibat sangat fatal karena dapat membangkitkan mutasi bakteri yang resistan terhadap regimen obat primer, sehingga berkembang menjadi kasus Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) yang mematikan.

Rangkaian intervensi pengabdian masyarakat yang berlangsung tertib sejak pukul 07.30 WITA ini diawali dengan penilaian dasar (baseline data) tingkat pengetahuan kognitif peserta melalui pengisian lembar kognitif pre-test.

Memasuki sesi edukasi pertama yang interaktif, akademisi keperawatan Yohana Agustina Sitanggang, S.Kep.Ns., M.Kep., membedah topik patofisiologi, tanda gejala klinis, serta klarifikasi terhadap berbagai mitos keliru seputar penyakit TB.

Sesi edukasi awal ini dirancang secara taktis untuk mengikis stigma sosial yang diskriminatif dan mengeliminasi pandangan sosiokultural menyimpang yang kerap menganggap infeksi paru ini sebagai penyakit kutukan atau guna-guna. narasumber menjelaskan secara lugas bahwa transmisi kuman murni terjadi melalui media udara (airborne transmission) saat penderita aktif batuk, bersin, atau meludah, dan sama sekali tidak menular melalui jabat tangan atau penggunaan alat makan bersama.

Melalui klarifikasi ilmiah yang humanis pada sesi pembuka ini, persepsi keliru peserta berhasil diluruskan sehingga menumbuhkan kesadaran baru dan mereduksi rasa malu penderita untuk menjalani pengobatan terbuka.

Selanjutnya, sesi edukasi kedua difasilitasi oleh praktisi klinis Puskesmas Cempaka dr. Rakhmad Khumaidi yang memaparkan kebijakan manajemen kasus di tingkat pelayanan primer, mekanisme akses logistik OAT gratis, serta pentingnya penjadwalan kontrol rutin.

Rangkaian acara kemudian diteruskan dengan sesi edukasi ketiga yang dipimpin langsung oleh dosen spesialis keperawatan medikal bedah, Irfan Maulana, S.Kep., Ns., M.Kep, Sp.Kep.MB. Fokus bahasan pada sesi ketiga ini diarahkan pada rekonstruksi dan optimalisasi peran strategis pendamping rumah tangga dalam menjalankan fungsi sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) yang kompeten.

PMO keluarga dibekali keterampilan klinis praktis untuk memantau kedisiplinan konsumsi obat, memberikan penguatan psikologis, serta melakukan deteksi dini terhadap potensi munculnya efek samping farmakologis. Pengetahuan mendalam mengenai efek samping metabolik seperti mual ringan, vertigo, nyeri sendi, hingga perubahan warna urine menjadi kemerahan diuraikan secara rinci agar keluarga tidak menghentikan terapi secara sepihak saat keluhan muncul.

Muara utama dari gerakan aksi terpadu ini difokuskan pada eskalasi efikasi diri (self-efficacy) serta stimulasi motivasi intrinsik pasien agar memiliki keyakinan kokoh dalam menyelesaikan program terapeutik. Konsep efikasi diri yang diintegrasikan dalam asuhan keperawatan ini mengondisikan kesiapan mental penderita agar tangguh menghadapi hambatan fisik, tantangan sosial, maupun kejenuhan psikologis selama masa pemulihan.

Demi menjamin keberlanjutan intervensi di lingkungan rumah, tim pengabdi dari KMB ULM mendistribusikan media promosi kesehatan cetak berupa Modul Pendampingan Pasien Tuberkulosis yang komprehensif.

Modul referensi ilmiah populer tersebut memuat instruksi aplikatif mengenai pemenuhan gizi seimbang kaya protein, teknik latihan pernapasan untuk memperkuat kapasitas vital paru, serta protokol pencegahan transmisi domestik. Di samping itu, dibagikan pula lembar visual berupa leaflet edukasi ringkas serta instrumen pemantauan mandiri berupa tabel Checklist Kepatuhan Harian untuk diisi oleh Pengawas Minum Obat (PMO) pasca penderita menelan tablet obat.

Implementasi instrumen monitoring mandiri seperti checklist harian tersebut terbukti secara empiris mampu memitigasi risiko kelalaian atau keterlambatan dosis yang sering menjadi pemicu kegagalan terapi obat.

Evaluasi akhir program ditandai dengan pelaksanaan pengisian lembar post-test, yang secara kuantitatif menunjukkan peningkatan pemahaman kognitif yang signifikan pada seluruh kelompok sasaran. Pihak manajemen Puskesmas Rawat Inap Cempaka menyampaikan apresiasi mendalam terhadap model intervensi berbasis bukti (evidence-based nursing practice) yang diaplikasikan oleh akademisi keperawatan ULM ini.

Dampak jangka panjang dari kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu mendongkrak angka kesembuhan (cure rate) penderita secara riil dan memutus mata rantai transmisi bakteri patogen di wilayah Banjarbaru. Seiring berakhirnya seluruh rangkaian agenda pada pukul 11.10 WITA, komitmen kemitraan antara institusi pendidikan tinggi keperawatan dan fasilitas pelayanan kesehatan primer disepakati akan terus diperluas berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....