Dokumentasi Delapan Masjid Perkuat Literasi Budaya Banua
- 07 Okt 2026 12:12 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dosen Universitas PGRI Kalimantan mendokumentasikan delapan masjid bersejarah di Kalimantan Selatan. Dokumentasi tersebut menjadi upaya memperkuat literasi budaya sekaligus mengenalkan jejak sejarah Islam di Tanah Banjar.
Rancangan kegiatan ini disampaikan Akhmad Humaidi, M.Pd. - Dosen PBSI UPK dan Dr. Hj. Dina Huriaty, M.Pd. - Dosen Pendidikan Matematika UPK dalam siaran Pandiran Baisukan RRI Pro 4 Banjarmasin. Siaran bertema Dokumentasi Masjid Bersejarah Kalimantan Selatan sebagai Penguatan Literasi Budaya berlangsung Senin, 5 Oktober 2026.
Humaidi menjelaskan, kegiatan tersebut mendapat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Tim mendokumentasikan Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Jami Banjarmasin, dan Masjid Tuhfaturraghibin atau Masjid Kanas.
Dokumentasi juga mencakup Masjid Abdul Hamid Abulung, Masjid Al-Mukarramah, dan Masjid Jami Ibrahim. Dua masjid lainnya yakni Masjid Keramat Pelajau serta Masjid Al-Aqla di Desa Jatuh, Hulu Sungai Tengah.
Menurut Humaidi, masjid bersejarah bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi monumen hidup masyarakat. “Masjid ini tetap digunakan untuk salat, pengajian, dan kegiatan keagamaan,” ujar Humaidi.
Hj. Dina Huriat mengatakan, kegiatan tersebut merupakan pengembangan dari kajian literasi yang sebelumnya dilakukan tim. Menurutnya, dokumentasi masjid diarahkan untuk memperkuat literasi budaya berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan.
| Baca juga: Literasi Digital Perkuat Kerukunan Beragama |
Hj. Dina menjelaskan, penguatan literasi budaya juga sejalan dengan visi dan misi Universitas PGRI Kalimantan. “Kita ingin memberdayakan kearifan lokal yang ada di Kalimantan Selatan,” kata Hj. Dina.
Humaidi menambahkan, masjid-masjid tersebut memiliki peran dalam perkembangan Islam dan kehidupan sosial masyarakat. Beberapa masjid juga berkaitan dengan aktivitas masyarakat pada masa Perang Banjar, berdasarkan kajian tim.
Hj. Dina menyebut, dokumentasi tersebut nantinya dikembangkan menjadi booklet dan film dokumenter pendek. Keduanya diharapkan menjadi media literasi yang mengenalkan sejarah, arsitektur, dan tradisi masjid kepada masyarakat.
Humaidi menjelaskan, sejumlah masjid masih mempertahankan ciri arsitektur lama dengan atap bertingkat tiga. Ciri tersebut terlihat pada beberapa masjid dan menunjukkan adanya pengaruh arsitektur Demak.
Tradisi budaya juga masih berlangsung di sejumlah masjid, seperti Baayun Maulid dan Batumbang. Tradisi tersebut antara lain ditemukan di Masjid Al-Mukarramah, Masjid Keramat Pelajau, dan Masjid Al-Aqla.
Hj. Dina menegaskan, keberadaan masjid bersejarah perlu dikenalkan kepada generasi muda melalui dokumentasi yang mudah dipahami. Menurutnya, upaya tersebut dapat membantu masyarakat mengenali hubungan sejarah, budaya, dan kehidupan keagamaan di daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....