Lingkungan Ramah Anak dan Inklusif Jadi Tanggung Jawab Bersama
- 06 Okt 2026 10:19 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Menciptakan lingkungan yang ramah anak dan inklusif adalah tanggung jawab bersama untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal setiap anak.
- Diskriminasi terhadap anak disabilitas masih terjadi dalam dunia pendidikan, sehingga guru harus bijak dalam mengambil keputusan.
- Lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari diskriminasi harus dibangun tanpa membedakan kondisi fisik, kemampuan, maupun latar belakang anak.
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Menciptakan lingkungan yang ramah anak dan inklusif menjadi tanggung jawab bersama agar setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari diskriminasi perlu dibangun tanpa membedakan kondisi fisik, kemampuan, maupun latar belakang anak.
Hal tersebut disampaikan Dosen UIN Antasari Banjarmasin, Uswatun Nisa, S.Pd., M.A., dalam program Disabilitas dan Inklusi RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 3 Oktober 2026. Menurutnya, masih terdapat diskriminasi terhadap anak disabilitas dalam dunia pendidikan sehingga guru dituntut bijak dalam mengambil keputusan.
Upaya menciptakan lingkungan ramah anak dan inklusif dapat dimulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat. Anak perlu mendapatkan ruang untuk bermain, belajar, berpendapat, dan berinteraksi dalam suasana yang aman serta bebas dari kekerasan dan perundungan.
“Masih ada diskriminasi yang terjadi dalam dunia pendidikan terhadap anak disabilitas,” ucap Uswatun Nisa. “Di sinilah seorang guru dituntut untuk bersikap bijak dalam membuat keputusan.”
Uswatun Nisa menjelaskan prinsip inklusivitas memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Anak berkebutuhan khusus juga perlu memperoleh akses yang layak terhadap pendidikan, fasilitas umum, kegiatan sosial, dan berbagai layanan pendukung tumbuh kembang.
Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam mewujudkan lingkungan yang ramah dan inklusif. Guru dan tenaga pendidik dapat menanamkan nilai toleransi, empati, saling menghargai, dan gotong royong, sementara fasilitas sekolah perlu dirancang agar dapat diakses seluruh peserta didik, termasuk anak disabilitas.
Uswatun Nisa menekankan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Orang tua, tokoh masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak perlu berkolaborasi untuk mencegah kekerasan, menyediakan ruang bermain yang aman, serta memastikan suara dan kebutuhan anak mendapatkan perhatian.
Ia menegaskan lingkungan ramah anak dan inklusif diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anak berhak merasa aman, dihargai, diterima, dan memiliki kesempatan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....