Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan Perlu Berorientasi pada Kemaslahatan

  • 05 Okt 2026 21:08 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Penggunaan AI dalam pendidikan harus memperhatikan tujuan, cara penggunaan, dan dampaknya terhadap proses belajar menurut perspektif akademisi UIN Antasari.
  • Dalam fikih Islam, AI dipandang sebagai alat atau wasilah yang pemanfaatannya harus diarahkan untuk kemaslahatan bagi pendidikan.
  • Penilaian terhadap teknologi AI dalam perspektif fikih bergantung pada tujuan penggunaan, metode implementasi, dan dampak konkret yang dihasilkan terhadap pembelajaran.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan perlu memperhatikan tujuan, cara penggunaan, dan dampaknya terhadap proses belajar. Dalam perspektif fikih Islam, AI dapat dipandang sebagai alat atau wasilah yang pemanfaatannya perlu diarahkan untuk kemaslahatan.

Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Hasby Assidiqi, S.Pd., M.Si., dalam program Kuliah Subuh RRI Pro1 Banjarmasin, Senin, 5 Oktober 2026. Menurutnya, dalam perspektif fikih Islam, teknologi AI pada dasarnya merupakan alat yang penilaiannya bergantung pada tujuan, cara penggunaan, dan dampak yang ditimbulkan.

Menurut Hasby Assidiqi, AI dapat membantu siswa memahami materi, mencari penjelasan alternatif, berlatih soal, dan memperoleh umpan balik. Namun, penggunaannya perlu diperhatikan ketika menimbulkan ketergantungan, menghilangkan proses belajar, atau membuat siswa mengakui hasil AI sebagai pekerjaannya sendiri.

“AI menjadi maslahat jika digunakan untuk membantu memahami materi, mencari penjelasan alternatif, berlatih soal, memperoleh umpan balik, atau membantu guru menyiapkan pembelajaran,” ujar Hasby. “Namun, penggunaannya dapat menjadi bermasalah jika menimbulkan ketergantungan, penyalahgunaan, atau hilangnya proses belajar.”

Ia menekankan pentingnya kejujuran, amanah, dan tabayyun dalam menggunakan AI untuk pembelajaran matematika. Siswa tetap perlu memeriksa kebenaran jawaban dan tidak menjadikan hasil AI sebagai pekerjaan sendiri tanpa memahami prosesnya.

“Teknologi itu membantu kita belajar, bukan membuat kita berhenti mengingat atau berpikir,” katanya. “Karena itu, menggunakan AI tetap perlu memahami, mempelajari, melatih, dan menyelesaikan masalah agar kemampuan kognitif tetap terlatih.”

Pemanfaatan AI dalam pendidikan diharapkan tetap menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif dalam proses belajar. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung, sementara kemampuan berpikir, memahami, dan menyelesaikan masalah tetap perlu dibangun oleh siswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....