Hari Kesaktian Pancasila Jadi Momentum Memperkuat Persatuan Bangsa

  • 05 Okt 2026 06:25 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk kembali memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dibahas dalam program Pandiran Baisukan “MABAR” (Madihin Bahabar) RRI Pro4 Banjarmasin, Kamis, 1 Oktober 2026, bersama Madihin Milenial Syahril, Arief, dan Fadil.

Melalui sajian madihin dan dialog khas Banjar, ketiganya membahas makna Hari Kesaktian Pancasila, peristiwa 30 September 1965, hingga tantangan menjaga persatuan di tengah perkembangan zaman. Pembahasan juga dikaitkan dengan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan.

Syahril menjelaskan, Hari Kesaktian Pancasila memiliki konteks berbeda dengan Hari Lahir Pancasila. Hari Lahir Pancasila berkaitan dengan proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara, sedangkan Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan upaya mempertahankan Pancasila dari berbagai ancaman terhadap ideologi negara. “Kalau lahir belum tentu sakti, kalau sakti sudah pasti lahir,” ujarnya.

Syahril menilai ketahanan Pancasila perlu terus diperkuat agar bangsa Indonesia tidak mudah dipengaruhi kepentingan dan ideologi dari luar. Menurutnya, nilai Pancasila menjadi salah satu kekuatan untuk menjaga Indonesia tetap memiliki jati diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, Arief menyoroti pentingnya memahami sejarah secara lebih utuh, khususnya peristiwa G30S 1965 yang memiliki berbagai versi dan sudut pandang. Ia menilai masyarakat perlu mengambil pelajaran dari berbagai konflik masa lalu agar tidak kembali mengalami perpecahan. “Memang berbagai versi, berbagai sudut pandang bisa kita ambil di sini,” katanya.

Arief juga mengingatkan bahwa tantangan terhadap persatuan bangsa saat ini tidak hanya muncul dalam bentuk konflik fisik. Perkembangan teknologi dan ruang digital dapat menjadi sarana penyebaran informasi yang memecah belah masyarakat. Karena itu, nilai persatuan dan semangat perjuangan para pahlawan perlu tetap dijaga dalam kehidupan generasi sekarang.

Fadil kemudian menekankan pentingnya menerapkan lima sila Pancasila secara nyata. Menurutnya, nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. “Nilai-nilai Pancasila itu secara kasat mata ada lima,” ucapnya.

Fadil menjelaskan, sila ketiga mengajarkan masyarakat untuk bersatu dan tidak mudah terpecah belah, sementara sila keempat mengajarkan penyelesaian berbagai kepentingan melalui musyawarah. Menurutnya, penerapan nilai tersebut menjadi penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat.

Pembahasan juga menyoroti kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan yang dinilai memiliki nilai religius dan toleransi yang kuat. Keberagaman suku, budaya dan bahasa menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang telah berlangsung sejak lama. Nilai gotong royong dan saling menghargai dinilai sejalan dengan semangat Pancasila.

Melalui program MABAR, Syahril, Arief, dan Fadil mengajak generasi muda tidak sekadar menghafal lima sila Pancasila, tetapi memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga persatuan, menghargai perbedaan, bermusyawarah, bergotong royong, serta bijak menggunakan ruang digital dinilai menjadi bentuk nyata pengamalan Pancasila di era sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....