Mahasiswa UMBJM Kembangkan Madu Kelulut Jadi Kelumi
- 29 Agt 2026 15:18 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Balangan - Madu kelulut di Desa Balida tidak lagi sekadar dipandang sebagai hasil panen untuk dikonsumsi langsung masyarakat. Melalui tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM), potensi tersebut dikembangkan menjadi produk olahan bernama Kelumi.
Wakil Ketua KKN Fakultas S1 Farmasi UMBJM, Rifani Maulana, melihat potensi madu kelulut di Desa Balida cukup besar untuk dikembangkan. Melalui hasil riset Lembaga Riset dan Inovasi UMBJM, inovasi tersebut kemudian diteruskan melalui program KKN 2026 yang berlangsung sejak pelepasan di Bappeda Balangan pada 3 Agustus hingga 3 September 2026.
“Sebelumnya kami sudah melakukan survei dan di desa ini ternyata memiliki peternakan kelulut sebanyak 70 sarang, yang setiap panen bisa menghasilkan lima liter dalam satu sarang,” ujar Rifani, Minggu, 29 Agustus 2026. “Namun, petani madu kelulut masih menjual produk hanya madu kelulut, belum ada produk lanjutannya.”
Dari kondisi tersebut, mahasiswa mencoba memperluas pemanfaatan madu kelulut melalui tiga inovasi dengan karakter dan proses berbeda. Kelumi dikembangkan menjadi Kelumi Oat Cookies, Kelumi Wedang, serta Kelumi Gummy yang masih membutuhkan penyempurnaan formulasi.

Kelumi Wedang memadukan bahan herbal dengan madu kelulut melalui proses pengolahan yang mempertimbangkan komposisi dan cita rasa. Sementara itu, Kelumi Oat Cookies memanfaatkan madu kelulut sebagai salah satu bahan adonan untuk menghasilkan produk yang mudah diproduksi secara berkelanjutan.
“Untuk inovasi tersebut, kami kemarin ada beberapa percobaan dari pihak dosen dan perangkat desa untuk batch pertama,” ujarnya. “Lalu, batch selanjutnya bersama perangkat desa dengan warga yang didampingi kami, mahasiswa KKN.”
Proses tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat yang antusias mengikuti pembuatan produk Kelumi bersama mahasiswa. Kepala Desa Balida juga menilai produk tersebut berpeluang menjadi ciri khas desa yang dapat dipamerkan serta dipasarkan lebih luas.
Bagi mahasiswa, perjalanan Kelumi belum seharusnya berakhir setelah kegiatan KKN selesai di Desa Balida. Mereka berharap masyarakat dan BUM Desa dapat meneruskan produksi melalui penyempurnaan formulasi, kemasan, legalitas, serta strategi pemasaran.
Jika dikembangkan secara konsisten, Kelumi berpotensi membawa madu kelulut Balida melangkah lebih jauh dari sekadar produk konsumsi. Kolaborasi universitas, BUM Desa, dan masyarakat diharapkan terus berjalan untuk menjaga keberlanjutan inovasi sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....