Gadget dan Medsos Menjadi Peluang Mengenalkan Budaya Banjar

  • 14 Mei 2026 14:15 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — Budaya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi justru harus dijadikan peluang untuk memperkenalkan budaya Banjar kepada generasi muda melalui media sosial dan platform digital.

“Mindset kita harus diubah. Gadget dan media sosial jangan dianggap ancaman, tetapi peluang untuk mengenalkan budaya Banjar lebih luas,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Budporapar) Kota Banjarmasin, Dr. Ibnu Sabil, dalam siaran Pandiran Baisukan Pro 4 RRI Banjarmasin, Selasa 12 Mei 2026.

Pandiran Baisukan bersama Laung Kuning Banjar mengangkat tema Melestarikan Seni dan Budaya Banjar. Hadir pula Muhammad Suriani dari Kampung Bermain Pendamai, Guru Masdar dari LKB DPC Banjarmasin, serta Guru Aman Babun dari LKB DPC Banjarmasin.

Disebutkan, Pemerintah Kota Banjarmasin terus menyiapkan berbagai program penguatan budaya. Salah satunya rencana pembangunan gedung seni budaya pada 2027 mendatang. Selain itu, pelatihan seni tari, musik tradisional hingga pengembangan destinasi wisata berbasis budaya juga terus dilakukan.

Sementara itu Muhammad Suriani dari Kampung Bermain Pendamai menilai permainan tradisional menjadi salah satu cara efektif mengenalkan budaya Banjar kepada anak-anak. Menurutnya, banyak generasi muda yang mulai tidak mengenal permainan tradisional seperti balogo, begasing hingga belewang.

“Anak-anak sekarang ternyata sangat antusias ketika dikenalkan permainan tradisional. Bahkan ada yang tidak ingin pulang karena asyik bermain,” katanya.

Suriani berharap sekolah-sekolah dapat menyediakan alat permainan tradisional agar budaya Banjar tetap hidup di lingkungan pendidikan. Ia menegaskan permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi warisan budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dibagian lain, Guru Masdar dari LKB DPC Banjarmasin mengatakan seluruh unsur seni Banjar perlu dikembangkan secara bersama-sama, mulai dari musik, tari, teater hingga madihin. Masdar menyebut seni budaya merupakan identitas daerah yang menjadi daya tarik dan kebanggaan masyarakat Banjar.

“Seni budaya itu harga jual sebuah daerah. Kalau seni budayanya hilang, daerah itu juga akan kehilangan identitasnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Guru Aman Babun yang menilai proses belajar seni tradisional memerlukan ketekunan dan kecintaan. Menurutnya, generasi muda harus diberi ruang untuk belajar langsung agar seni tradisi Banjar tidak berhenti di generasi sekarang.

“Belajar seni tradisi itu berproses dan perlu kesabaran. Kalau ada kemauan dan kecintaan, budaya Banjar akan tetap hidup sampai kapan pun,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....