Kesetaraan Disabilitas, Refleksi Semangat Kartini di Era Modern

  • 18 Apr 2026 18:45 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Semangat Kartini dinilai relevan dalam memperjuangkan kesetaraan bagi penyandang disabilitas di Indonesia
  • Akses pendidikan dan partisipasi kerja penyandang disabilitas masih rendah dan belum merata
  • Hambatan sosial dan lingkungan yang belum inklusif menjadi tantangan utama dalam mewujudkan kesetaraan

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Semangat Kartini dinilai tetap relevan dalam mendorong kesetaraan bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Hal ini disampaikan Koordinator Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas UIN Antasari, Helma Nuraini, S.Psi., M.Pd, dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi di RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 18 April 2026.

Helma menyebut, sekitar 1,7 juta penyandang disabilitas masih menghadapi hambatan dalam akses pendidikan dan pekerjaan. Sebagian belum menyelesaikan pendidikan dasar, sementara tingkat partisipasi kerja masih berada di kisaran 23,94 persen.

“Persoalan disabilitas bukan hanya pada kondisi individu, tetapi juga pada hambatan sosial yang masih kuat di masyarakat,” ujarnya. “Lingkungan yang belum inklusif membuat akses pendidikan, pekerjaan, dan ruang publik menjadi terbatas.”

Ia menjelaskan, model sosial disabilitas menekankan bahwa keterbatasan tidak semata berasal dari individu. Lingkungan yang tidak ramah justru memperbesar kesenjangan dan membatasi kesempatan yang setara.

“Jika kita melihat perjuangan Kartini, ada kesamaan dalam melawan sistem sosial yang membatasi,” ucap Helma. “Kartini menggugat norma yang dianggap wajar pada zamannya, sama seperti penyandang disabilitas saat ini yang memperjuangkan hak setara.”

Lebih lanjut, ia menilai konsep normalisasi dalam masyarakat membentuk standar tentang siapa yang dianggap ideal. Kondisi ini memicu diskriminasi, terutama bagi perempuan dengan disabilitas yang menghadapi kerentanan berlapis.

“Kepahlawanan hari ini bukan hanya soal perjuangan fisik, tetapi keberanian menantang norma yang tidak adil,” katanya. “Yang diperjuangkan bukan belas kasihan, melainkan kesetaraan bagi semua.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....