Tempat Sakral Urang Banjar dalam Perspektif Budaya

  • 04 Jan 2026 21:14 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Program Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin kembali mengudara pada Sabtu (3/1/2026) dengan mengangkat tema “Tempat Sakral dalam Perspektif Urang Banjar”. Siaran ini menghadirkan kolaborasi bersama Komunitas Palalah yang membahas relasi budaya, sejarah, dan kepercayaan masyarakat Banjar.

Diskusi tersebut menghadirkan Erwin dan Saukani sebagai narasumber yang mengulas makna kesakralan tidak hanya dari sisi mistis, tetapi juga nilai simbolik dan moral. Keduanya menegaskan bahwa konsep sakral dalam budaya Banjar tidak selalu identik dengan tempat angker atau menakutkan.

Menurut Erwin, tempat sakral merupakan ruang yang dibangun oleh narasi, ritual, dan kepercayaan kolektif masyarakat. “Sakral itu tidak selalu gaib atau horor, tetapi bisa menjadi simbol sejarah, ajaran moral, dan identitas budaya yang diwariskan,” ujarnya dalam siaran.

Ia mencontohkan bagaimana sebuah benda atau lokasi biasa dapat menjadi sakral karena kisah leluhur dan praktik ritual yang menyertainya. Proses penyakralan tersebut menjadikan tempat itu dari sekadar objek biasa menjadi sesuatu yang dihormati dan kemudian dikaji secara ilmiah," ucap Erwin.

Sementara itu, Saukani menjelaskan bahwa dalam pandangan Urang Banjar, tempat sakral berbeda dengan tempat angker. Tempat sakral diyakini sebagai ruang yang dihormati dan sering dijadikan media untuk memanjatkan doa atau harapan, bukan untuk ditakuti.

Beberapa lokasi seperti Candi Agung Amuntai, mata air, sungai, dan makam tokoh tertentu disebut masih dipercaya memiliki nilai sakral oleh sebagian masyarakat. Kepercayaan ini, menurut Saukani, hidup berdampingan dengan ajaran Islam dan menjadi bagian dari warisan budaya Banjar.

Melalui Pandiran Baisukan, Pro4 RRI Banjarmasin membuka ruang dialog kritis antara budaya, sejarah, dan kepercayaan masyarakat. Program ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman publik terhadap kearifan lokal Banjar tanpa kehilangan sikap rasional dan edukatif.

Pandiran Baisukan disiarkan melalui 87,7 dan 105,9 FM Pro4 RRI Banjarmasin, Suara Budaya Banjar, sebagai wadah diskusi budaya yang inklusif. Program ini terus mendorong masyarakat untuk memahami tradisi secara kontekstual dan berimbang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....