Urang Banjar dan Budaya Madam yang Mengakar

  • 09 Mei 2026 15:50 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin — Budaya “madam” kembali menjadi pembahasan menarik dalam siaran Pandiran Baisukan Pro 4 RRI Banjarmasin bersama UIN Antasari Banjarmasin, Jumat, 8 Mei 2026. Acara ini menghadirkan narasumber Dr. H. Ahmad Mujahid, MA, dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari, didampingi mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Siti Amelia.

Dalam perbincangan tersebut, budaya madam dibahas dari sudut pandang sejarah, sosial, hingga karakter masyarakat Banjar yang dikenal gemar merantau ke berbagai daerah bahkan luar negeri. Menurut Ahmad Mujahid, budaya madam sudah melekat kuat dalam identitas urang Banjar sejak lama.

Ia menjelaskan, istilah madam memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar merantau biasa. Madam diartikan sebagai pergi jauh dalam waktu lama hingga menetap di daerah lain. “Kalau merantau itu biasanya masih sering pulang, tapi kalau madam ini biasanya sangat lama menetap diperantauan, bahkan memilih tidak kembali lagi ke kampung halaman,” ujarnya saat siaran berlangsung.

Menurutnya, budaya tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi geografis, ekonomi, pendidikan, hingga keinginan memperbaiki kehidupan. Bahkan, dalam catatan sejarah, masyarakat Banjar disebut pernah bermigrasi hingga ke Malaysia, Arab, Madagaskar, dan berbagai wilayah lain di Nusantara.

Ahmad Mujahid menilai, budaya madam juga menunjukkan kemampuan adaptasi urang Banjar yang tinggi. Ia mencontohkan banyak masyarakat Banjar yang akhirnya menetap di daerah rantau karena menikah, bekerja, maupun menuntut ilmu. “Orang Banjar ini mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, itu salah satu kekuatan sosial yang dimiliki,” katanya.

Sementara itu, mahasiswa pendamping Siti Amelia mengaku budaya madam menarik untuk dipelajari generasi muda. Menurutnya, kehidupan di perantauan membutuhkan kemampuan beradaptasi dan keberanian menghadapi lingkungan baru. Ia juga mengaku tertarik suatu saat mencoba pengalaman tinggal di luar daerah.

Dalam sesi interaktif, pendengar dari Batu Mandi, Mahlian turut membagikan pandangan mengenai budaya madam, termasuk kisah tokoh Banjar yang merantau untuk berdakwah maupun menuntut ilmu. Salah satunya tentang ulama asal Banjar, Syekh Abdurrahman Siddiq, yang dikenal menetap di Indragiri Hilir, Riau.

Diskusi berlangsung hangat dan penuh nuansa kearifan lokal khas Banjar. Melalui siaran tersebut, RRI Banjarmasin bersama UIN Antasari berharap generasi muda dapat memahami budaya madam bukan hanya sebagai tradisi merantau, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah dan identitas masyarakat Banjar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....