Menjelajah Kalimantan, Mengabdi dan Menyatu dengan Budaya

  • 08 Nov 2025 22:55 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Siaran Pandiran Baisukan “MaBar” (Madihin Bahabar) edisi Kamis (6/11/2025) di Pro4 RRI Banjarmasin menghadirkan suasana hangat penuh tawa, pesan, dan nilai budaya Banjar. Acara dibuka dengan Madihin khas Arief dan Fadil dari komunitas Madihin Milenial, yang menampilkan kepiawaian berpantun dan berimprovisasi secara jenaka namun sarat makna.

Edisi kali ini terasa istimewa karena menghadirkan dua narasumber muda inspiratif, Wanda dan Atika Nur Fitri, dari komunitas Borneo Mengabdi. Keduanya berbagi pengalaman tentang perjalanan mereka menjelajah pelosok Kalimantan dalam misi sosial bertema “Ekspedisi di Tanah Kalimantan Mengabdi untuk Indonesia.”

Dalam obrolan santai namun bermakna, Atika Nur Fitri, Koordinator Wilayah Borneo Mengabdi Regional Kalimantan Selatan, menjelaskan bahwa komunitas ini lahir dari keresahan para pemuda terhadap kondisi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi di pedalaman Kalimantan.

“Borneo Mengabdi adalah wadah anak muda untuk berkolaborasi dan mengaktualisasikan peran mereka bagi masyarakat. Kami ingin menjadi generasi yang berdaya guna di Bumi Pertiwi, dimulai dari tanah kelahiran sendiri Kalimantan,” ujarnya penuh semangat.

Wanda menambahkan bahwa selama kegiatan ekspedisi dan pengabdian, para relawan banyak belajar dari kearifan lokal masyarakat pedalaman. Ia menuturkan pengalamannya mengikuti ritual adat Arhuganal di Pegunungan Meratus sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen.

Kami disambut hangat oleh warga. Mereka memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Dari sana kami belajar bahwa pengabdian bukan hanya tentang memberi, tapi juga menerima dan memahami budaya,” ucapnya penuh hparu.

Namun perjalanan mengabdi di pelosok Kalimantan tentu bukan tanpa tantangan. Atika menceritakan bagaimana timnya pernah menghadapi medan berat, hujan deras, hingga keterbatasan akses dan sinyal komunikasi.

“Kami pernah kesasar karena petunjuk jalan tidak jelas, tapi itu bagian dari pengalaman berharga. Semua suka duka kami jadikan pembelajaran untuk terus berbuat baik bagi Banua dan Indonesia,” ucapnya.

Siaran ditutup dengan Madihin penuh semangat dari Arief dan Fadil, yang merangkai pantun tentang semangat muda, cinta tanah Banua, dan pentingnya mengabdi untuk negeri.

Pandiran Baisukan – MaBar kembali membuktikan diri sebagai ruang ekspresi budaya Banjar yang tak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi melalui kisah nyata anak muda Kalimantan yang bergerak untuk perubahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....