Era 1930-an, Pelayanan Pariwisata Kuliner Kereta Berkembang Bersama

  • 04 Okt 2026 06:22 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Perkembangan organisasi berlangsung setahun kemudian dari era awal 1930an ke 1963, lalu ke 1971 itu . Berdasarkan Surat Keputusan Direksi PJKA Nomor 4805/SK/72 tanggal 5 Desember 1972, RESTORKA ditempatkan sebagai unit khusus dalam struktur organisasi PJKA. Dengan posisi tersebut, penyelenggaraan dan pengelolaan restoran kereta api mendapatkan wadah tersendiri.

Periode tersebut juga meninggalkan cerita kuliner yang bertahan dalam ingatan perjalanan kereta api. Salah satunya adalah Nasi Goreng Parahyangan, yang tercatat dalam perjalanan sejarah RESTORKA dan kemudian dikenal sebagai salah satu menu legendaris kereta api.

“Kalau kita melihat perjalanan tersebut, makanan ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah kereta api. Ada pelanggan yang mengingat perjalanan melalui keretanya, pemandangan yang dilewati, hingga makanan yang dinikmati selama berada di atas kereta. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang ikut membentuk memori perjalanan dari masa ke masa,” kata VP Corporate Communication KAI, Anne Purba kepada RRI, Sabtu 3 Oktober 2026.

Dari Pelayan Restorasi hingga Prama-Prami atau pramugari Kereta. Perubahan pelayanan juga terlihat pada petugas yang bekerja di dalam rangkaian.

Jika pada masa awal pelayanan berpusat pada kereta restorasi, dalam perkembangannya petugas hadir semakin dekat dengan pelanggan. Pramugara dan pramugari kemudian menjadi bagian dari pelayanan perjalanan kereta api, sebelum istilah prama dan prami semakin dikenal seperti sekarang.

Penampilan petugas ikut berubah mengikuti perkembangan identitas perusahaan dan standar pelayanan. Dokumentasi perjalanan perkeretaapian memperlihatkan perubahan seragam dari masa ke masa, sejalan dengan perubahan dari PJKA, Perumka, PT Kereta Api hingga KAI.

KAI tidak menetapkan kronologi warna dan desain setiap generasi seragam sebagai bagian dari catatan sejarah yang dipublikasikan saat ini. Namun, pada era modern, seragam menjadi salah satu identitas prama-prami ketika berinteraksi langsung dengan pelanggan.

Unsur budaya Indonesia juga hadir pada kesempatan tertentu. Pada peringatan Hari Batik Nasional 2025, misalnya, prama-prami KAI Services mengenakan batik karya Anne Avantie dengan motif Sawunggaling dan Truntum. Sawunggaling membawa makna kekuatan dan keteguhan, sementara Truntum merepresentasikan cinta yang tulus dan konsisten.

Perubahan seragam berjalan bersama perubahan ruang dan cara mereka bekerja. Prama-prami kini melayani kebutuhan pelanggan di sepanjang rangkaian serta mendukung pelayanan makanan dan minuman selama perjalanan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....