Eksotisme Curug Ciputrawangi,Wisata Tersembunyi di Kaki Gunung Tampomas

  • 22 Jun 2026 10:48 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kabupaten Sumedang di Jawa Barat tidak hanya tersohor karena tahu dongkalnya yang gurih, melainkan juga karena keindahan alamnya yang masih perawan. Salah satu destinasi wisata tersembunyi (hidden gem) yang patut dikunjungi oleh para pelancong adalah Curug Ciputrawangi yang terletak di Desa Narimbang.

Data yang dikutip dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang Senin 22 Juni 2026, mencatat tempat ini sebagai salah satu potensi wisata alam unggulan yang belum banyak terjamah. Lokasinya yang berada di dalam kawasan konservasi Taman Wisata Alam Gunung Tampomas membuat suasana di sekitar air terjun ini begitu asri dan menenangkan.

Berdasarkan data profil desa wisata setempat, Curug Ciputrawangi menyuguhkan aliran air jernih yang bersumber langsung dari mata air pegunungan. Keunikan utama dari air terjun ini adalah debit airnya yang cenderung stabil dan tidak pernah kering meskipun memasuki musim kemarau panjang.

Pihak pengelola dari Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Narimbang menjelaskan bahwa mitos dan sejarah lokal juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Konon, pada zaman dahulu kawasan air terjun ini sering menjadi tempat minum bagi macan kumbang yang turun dari puncak Gunung Tampomas.

Meskipun menyandang predikat sebagai tempat wisata tersembunyi, akses menuju lokasi ini sebenarnya sudah cukup memadai untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Lembar informasi wisata Sumedang menyebutkan bahwa pengunjung hanya perlu melakukan trekking ringan selama 15 menit dari area tempat parkir utama.

Sepanjang jalur berjalan kaki tersebut, mata wisatawan akan dimanjakan oleh rimbunnya pepohonan hutan tropis yang rapat dan udara pegunungan yang sangat bersih. Suara kicauan burung liar yang saling bersahutan dipastikan bakal langsung menghilangkan penat dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.

Merujuk pada laporan statistik kunjungan dari pos retribusi wisata, persentase kedatangan pelancong ke curug ini didominasi oleh pencinta alam dan keluarga kecil. Fasilitas penunjang di sekitar lokasi seperti musala, toilet umum, dan beberapa warung makan tradisional saat ini sudah mulai tertata dengan cukup rapi.

Tarif tiket masuk yang diberlakukan oleh pihak desa adat dan Perhutani pun tergolong sangat ramah di kantong wisatawan domestik. Berdasarkan pembaruan data harga tiket masuk kawasan Perhutani KPH Sumedang, pengunjung hanya dikenakan biaya retribusi kebersihan sebesar sepuluh ribu rupiah per orang.

Selain menikmati kesegaran air terjun, area di sekitar Curug Ciputrawangi ini juga sering dimanfaatkan sebagai tempat berkemah atau camping ground. Pihak pengelola mencatat adanya peningkatan tren pemesanan lahan kemah dari komunitas pencinta alam menjelang akhir pekan atau musim libur sekolah.

Bagi pengunjung yang ingin bermalam, mereka diwajibkan untuk melapor dan menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak meninggalkan sampah plastik. Aturan ketat ini diberlakukan demi menjaga kelestarian ekosistem hutan lindung yang menjadi habitat berbagai flora dan fauna langka.

Dokumentasi dari jurnalisme warga di media sosial juga turut memperlihatkan keindahan bebatuan sungai alami yang sangat estetis untuk dijadikan latar belakang berswafoto. Keberadaan spot foto alami yang melimpah ini menjadi magnet baru bagi generasi muda yang gemar berburu konten visual estetik di alam terbuka.

Dengan segala potensi dan keindahan yang ditawarkan, Curug Ciputrawangi siap menjadi salah satu ikon wisata alam baru yang membanggakan bagi Kabupaten Sumedang. Pemerintah daerah setempat pun terus berkomitmen melakukan promosi secara digital guna memperkenalkan surga tersembunyi ini kepada wisatawan mancanegara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....