Sejarah dan Keunikan Arsitektur Mesjid Agung Sumedang

  • 23 Apr 2026 15:18 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Sumedang - Mesjid Agung Sumedang berdiri megah di pusat kota, tepatnya di kawasan Alun-Alun yang strategis. Secara historis, bangunan ini didirikan pada tahun 1850 pada masa pemerintahan Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Koesoemah Adinata, yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran Sugih.

Pembangunan ini menjadi tonggak penting sebagai pusat syiar Islam di wilayah Priangan Timur, menggantikan keberadaan mesjid sebelumnya yang sempat berlokasi di kawasan Sukaraja, sekaligus menjadi simbol spiritual masyarakat setempat.

Arsitektur mesjid ini sangat menarik karena merupakan perpaduan harmonis antara nilai tradisional Sunda, pengaruh kolonial Belanda, serta sentuhan seni arsitektur Tionghoa. Pengaruh budaya Tionghoa ini tampak pada detail ornamen dan struktur atap di beberapa bagian bangunan, yang berpadu serasi dengan estetika Islam.

Karakteristik ini semakin diperkuat melalui renovasi pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja (Pangeran Mekah), yang mempertahankan kubah berbentuk mahkota raja sebagai cerminan identitas sejarah Kerajaan Sumedang Larang.

Peran mesjid ini sangat vital bagi kehidupan sosial dan keagamaan warga setempat hingga hari ini. Selain menjadi pusat ibadah harian yang khusyuk, kawasan mesjid menjadi titik kumpul masyarakat dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti peringatan hari besar Islam atau diskusi komunitas.

Kedekatannya dengan berbagai situs sejarah di pusat kota menjadikan area ini sebagai ruang publik yang dinamis, sarat akan nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang telah terjaga lintas generasi.

Bagi para pengunjung, singgah di Mesjid Agung Sumedang menawarkan pengalaman wisata religi dan napak tilas sejarah yang sangat berkesan. Suasana yang tenang di tengah hiruk-pikuk pusat kota memberikan keteduhan batin bagi setiap pengunjung yang datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....