Cegah Pungli, Pemkab Tasikmalaya segera Digitalisasi Penarikan Retribusi

  • 21 Feb 2026 13:16 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Buntut dugaan pungli retribusi tiket masuk objek wisata Pantai Sindangkerta, Kabupaten Tasikmalaya, pemkab setempat segera melakukan penataan di objek wisata yang ada.

Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin mengatakan, selain menata lokasi terutama pintu masuk Pantai Sindangkerta menjadi satu pintu, sistem retribusi juga akan menggunakan sistem digital qris.

“Iya kami akan segera menerapkan itu.,Kita akan mencoba membuat agar pintu masuk hanya satu. Saat ini kan tidak. Termasuk menata, warung, ataupun rumah- rumah warga yang berada di harim laut, bertahap akan kita tata,” ujarnya, Sabtu 21 Februari 2026.

Selain penataan kawasan, ke depan kata Cecep, tiket yang dibeli wisatawan tidak lagi menggunakan tiket sobek, yang rawan pungli.

Melainkan dengan sistem non tunai.

“Ya nanti sistemnya “cashless”. Bisa qris, atau pembayaran digital lainnya,” ujarnya.

Upaya yang akan dilakukan ini, akan diterapkan di objek wisata yang ada. Sehingga selain mampu memberi kenyamanan bagi masyarakat, kebocoran retribusi dapat ditekan.

“PAD pun dapat meningkat, jika retribusi tidak bocor,” ucapnya.

Sementara itu, Aris (40) warga Tanjungkerta berharap, digitalisasi tiket masuk segera diterapkan di objek wisata. Sebab kata Aris, Ia sering mendapat perlakuan pungli, dimana tarif masuk lokasi wisata, tidak sesuai dengan harga yang tertera di tiket.

“Iya di tiket misal Rp.5.000,-, kita dimintai sampai Rp 20.000,-,” katanya.

Tidak hanya tiket masuk, biaya parkir di lokasi wisata juga kerap mahal, dan tidak sesuai dengan ketentuan Dengan digitalisasi, Aris berharap, pungli dapat ditekan dan masyarakat akan semakin nyaman saat berkunjung ke lokasi wisata.

“Kami tentunya akan nyaman berwisata, apalagi dengan harga tiket yang sesuai. Saya yakin jika seperti itu, objek wisata yang ada akan semakin banyak dikunjungi wisatawan,” ujarnya.

Sebelumnya, unggahan wisatawan di Pantai Sindangkerta mendapat respon berbagai pihak. Dalam unggahan di media sosial, wisatawan itu mengaku diminta membayar tiket masuk senilai Rp.40 ribu, sementara dalam tiket tertera tiket masuk hanya Rp.6.000,-

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....