Event Besar Kota, Dongkrak Hunian Capai 90 Persen

  • 22 Okt 2025 11:57 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung; Berbagai event dan kegiatan berskala besar yang digelar di Kota Bandung sepanjang paruh kedua tahun 2025 terbukti memberikan dampak signifikan terhadap sektor ekonomi, khususnya industri pariwisata dan perhotelan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, sejak bulan Juli hingga Oktober 2025, tingkat hunian hotel di Kota Bandung mencapai rata-rata 90 persen, terutama pada akhir pekan dan selama berlangsungnya event-event besar seperti Asia Africa Festival, Singa Karmimya, serta Pasar Seni Bandung.

Baca juga:Strategi Managemen D'Castello Tingkatkan Kunjungan Wisatawan

“Alhamdulillah, ini kabar baik sekali. Sejak bulan Juli sampai hari ini, tingkat hunian hotel di Bandung luar biasa. Kalau setiap kali ada acara besar seperti Singa Karmimya, Asia Afrika, atau Pasar Seni, tingkat hunian hotel selalu di angka 90 persen,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Rabu (22/10/2025).

Meski tingkat okupansi tinggi, Farhan mencatat adanya fenomena menarik di sisi transaksi ekonomi. Menurutnya, tingkat pengeluaran per wisatawan justru menurun, karena banyak pengunjung lebih memilih berbelanja di sektor informal seperti pedagang kaki lima atau kuliner jalanan dibandingkan di pusat perbelanjaan modern.

“Memang jumlah pengunjung meningkat pesat, tapi transaksi per orang menurun. Sebab, belanjanya banyak di sektor informal bukan di toko atau mal besar,” jelasnya.

Farhan menyebut, tingkat hunian hotel berbintang mencapai 90 persen, sementara hotel melati dan penginapan kecil sekitar 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Bandung tetap menjadi destinasi favorit bagi berbagai kalangan wisatawan, baik dari luar kota maupun mancanegara.

Dalam tiga minggu terakhir, kata Farhan, perputaran uang di Kota Bandung diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah, seiring meningkatnya mobilitas wisatawan dan kegiatan ekonomi di berbagai sektor.

“Dalam tiga minggu ini saja, perputaran uang bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Ini menandakan roda ekonomi kota bergerak dengan sangat baik,” ucapnya.

Namun demikian, Farhan mengingatkan adanya tantangan yang akan dihadapi setelah musim liburan akhir tahun dan Natal–Tahun Baru (Nataru). Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, laju ekonomi cenderung melambat menjelang periode Ramadan dan Idulfitri, karena masyarakat mulai menahan pengeluaran untuk kebutuhan lebaran.

“Tantangannya adalah begitu selesai musim liburan Nataru, ekonomi biasanya melambat. Masyarakat mulai menghemat untuk persiapan lebaran di Februari–Maret,” tuturnya.

Ia juga menyoroti fenomena konsumsi masyarakat selama bulan puasa yang kini cenderung stagnan, bahkan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa momen puasa dan lebaran tidak otomatis meningkatkan konsumsi. Justru setelah lebaran, pengeluaran meningkat, terutama karena orang tua menyiapkan biaya untuk penerimaan siswa baru,” ungkapnya.

Untuk menjaga momentum ekonomi, Pemkot Bandung berencana mendorong peningkatan aktivitas ekonomi ritel mulai pertengahan tahun depan. Pemerintah kota juga akan menggandeng pelaku UMKM, sektor kuliner, dan industri kreatif agar tetap produktif sepanjang tahun, tidak hanya bergantung pada momen liburan atau event besar.

“Kita akan terus dorong pergerakan ekonomi ritel di Bandung. Puncak aktivitas ekonomi biasanya terjadi di bulan Juli, jadi kita akan fokus memperkuat sektor tersebut,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....