Saat Dana Tertahan,Mampukah Cabor Jawa Barat Berdiri Lebih Mandiri?
- 16 Jun 2026 16:35 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Prestasi olahraga Jawa Barat selama beberapa tahun terakhir merupakan bukti nyata keberhasilan sistem pembinaan yang telah dibangun secara konsisten. Tiga kali berturut-turut menjadi juara umum Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai dari PON Jawa Barat, PON Papua, hingga PON Aceh-Sumatera Utara 2024.
Hal itu menunjukkan bahwa Jawa Barat masih menjadi salah satu kiblat olahraga prestasi nasional. Kontribusi atlet-atlet Jawa Barat di tingkat internasional pun tidak sedikit, membawa nama Indonesia berprestasi di berbagai ajang dunia.
Capaian tersebut tentu bukan hasil kerja sesaat, melainkan buah dari budaya pembinaan yang telah tumbuh kuat di berbagai cabang olahraga. Keberhasilan tersebut juga lahir dari kolaborasi banyak pihak.
Pemerintah, KONI, pengurus cabang olahraga, pelatih, atlet, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga ekosistem olahraga tetap hidup. Selama ini dukungan anggaran pemerintah menjadi salah satu instrumen penting dalam memastikan proses pembinaan berjalan berkesinambungan.
Karena itu, ketika muncul persoalan hubungan yang kurang harmonis antara organisasi induk olahraga dan pemerintah daerah, kekhawatiran publik olahraga menjadi sesuatu yang wajar. Dalam enam bulan terakhir, isu belum cairnya anggaran pemerintah kepada KONI Jawa Barat menjadi perhatian banyak pihak.
Terlepas dari alasan administratif, regulasi, maupun dinamika kebijakan yang melatarbelakanginya, kondisi ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Pemangku kebijakan perlu menyadari bahwa olahraga prestasi tidak dapat menunggu terlalu lama.
Program pembinaan, pemusatan latihan, kompetisi, hingga kebutuhan atlet berjalan berdasarkan kalender yang pasti. Keterlambatan dukungan dapat berdampak pada terganggunya proses yang selama ini telah menghasilkan prestasi membanggakan bagi Jawa Barat dan Indonesia.
Namun di sisi lain, situasi ini juga harus menjadi momentum introspeksi bagi seluruh cabang olahraga. Terlalu bergantung pada anggaran pemerintah bukanlah pilihan yang sehat untuk masa depan olahraga modern.
Dunia olahraga saat ini bergerak menuju industri olahraga dan sport tourism yang menuntut kreativitas, inovasi, serta kemampuan membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Karena itu, para ketua cabang olahraga dan pengurus tidak boleh hanya menunggu kepastian anggaran, tetapi mulai membangun model pembiayaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Peran ketua cabang olahraga ke depan tidak lagi cukup hanya sebagai administrator organisasi atau pengelola program pertandingan. Mereka harus menjadi pemimpin yang mampu membangun jejaring dengan dunia usaha, mencari sponsor, menciptakan event yang memiliki nilai ekonomi, serta menghadirkan program pembinaan yang menarik dukungan masyarakat.
Ketua cabor harus mampu membaca peluang industri olahraga yang terus berkembang, sehingga organisasi yang dipimpinnya memiliki sumber daya yang lebih kuat dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.

Pada akhirnya, kondisi yang terjadi dalam enam bulan terakhir harus menjadi renungan bersama. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan KONI Jawa Barat perlu segera menemukan titik temu demi menjaga keberlangsungan pembinaan olahraga yang telah terbukti melahirkan prestasi.
Namun pada saat yang sama, seluruh cabang olahraga juga harus menyiapkan diri menghadapi era baru yang menuntut kemandirian. Prestasi besar Jawa Barat tidak boleh terhambat oleh dinamika kebijakan jangka pendek.
Justru dari situasi inilah harus lahir semangat baru untuk membangun olahraga Jawa Barat yang lebih kuat, lebih mandiri, dan tetap menjadi barometer olahraga prestasi nasional.
Penulis : Epriyanto Kasmuri.(Ketua umum DPD Perbasi Jabar)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....