Kesadaran, Kesabaran, Keberanian Mengobarkan Haji Orang Beriman
- 02 Jun 2026 12:06 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Fase krusial ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) 1447 H / 2026 M baru saja purna dilaksanakan dengan sukses di tengah kepungan cuaca ekstrem. Saudi National Center for Meteorology (SNCM) menyatakan bahwa sengatan panas luar biasa, suhu udara di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina kompak menyentuh angka maksimal antara 45°C - 47°C pada siang hari.
Tak hanya itu, berkelimoter jarak juga harus dilalui oleh langkah kaki. Inilah medan ibadah yang dihadapi oleh para haji kita yang telah berjuang sejak lama menyiapkan dirinya. Memikirkannya, sembari meresapi bait puisi legendaris W.S. Rendra, kita akan peroleh sebuah kompas spiritual yang hidup.
Dalam satu karyanya, Rendra menuliskan, "Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata." Bila ditarik ke dalam dimensi spiritualitas Islam, tiga pilar utama; kesadaran, kesabaran, dan keberanian, bukanlah sekadar konsep filosofi biasa. Ketiganya adalah "kayu bakar" spiritual yang menggerakkan langkah orang-orang beriman berhaji di tiap zaman. Tanpa “triangle spiritual” ini, perjalanan haji hanya akan jadi perjalanan turisme biasa yang kehilangan ruh perubahan batinnya.
Bila kita tengok ke belakang, haji pada berabad silam dari bumi pertiwi juga dipenuhi kompleksitas tantangan. Berhaji bagi muslim Nusantara di masa lalu bagai sebuah pertaruhan antara hidup & mati. Berbeda dengan era modern yang telah mengandalkan kenyamanan pesawat terbang berdurasi setengah hari, orang-orang beriman zaman dulu harus mengarungi samudra selama berbulan-bulan, bahkan tahunan sebelum menghadapi sengatan panas dan mengayunkan berkilometer langkah kaki.
Dr. M. Shaleh Putuhena dalam bukunya “Historiografi Haji Indonesia” (LKiS, 2007), menceritakan catatan tentang perjalanan haji masyarakat nusantara ini yang sudah terlacak sejak masa awal Islamisasi. Dalam catatan beberapa sumber sejarah, tokoh Nusantara pertama yang menunaikan ibadah haji adalah Bratalegawa dari Kerajaan Galuh pada abad ke-14, yang kemudian dijuluki sebagai Haji Purwa (Haji Pertama).
Sementara itu pada abad 17 -19 M, perjalanan haji menjadi perjalanan maritim yang makin kolosal & berbahaya. Era sebelum mesin uap, haji harus menaiki kapal layar niaga. Rutenya tak langsung ke Jeddah. Mereka singgah berbulan-bulan di berbagai bandar pelabuhan, mulai dari Malaka, Aceh (yang dijuluki Serambi Makkah), India, Yaman, hingga akhirnya berlabuh di Laut Merah.
Gelombang ganas samudera, potensi penyakit, cuaca panas & rute perjalanan ibadah adalah tantangan-tantangan yang tak mudah. Semua itu sudah siap dihadapi oleh para jemaah haji dengan sepenuh kesadaran, berlapis kesabaran & tebalnya keberanian.
Di sinilah koneksitas puisi W.S. Rendra tertranformasi nyata sebagai bahan bakar spiritual para jemaah haji dari zaman ke zaman.
“Kesadaran adalah matahari”; perjalanan panjang termula dari kesadaran tauhid yang membakar dada. Bahwa manusia adalah fana yang memicu rindu untuk bersujud di depan Ka'bah. Ini menjadi penerang jalan, membuat mereka rela menjual tanah, kerbau, dan harta benda serta menabung lama demi bekal perjalanan spiritualnya.
“Kesabaran adalah bumi”; saat menjalani hari demi hari perjalanan, kesabaran menjadi fondasi utama. Beberapa tulisan sejarah menggambarkan betapa menderitanya jemaah haji masa kolonial. Mereka berjejalan di dek ruang kapal dagang yang tak luas, dihantam badai tropis, kurang sanitasi, terancam kelaparan & wabah penyakit menular.
Ratusan jemaah yang wafat jenazahnya harus dibuang ke tengah samudra. Tanpa kesabaran yang sekuat bumi, badai fisik & mental itu pasti akan menghancurkan kewarasan manusia.
“Keberanian menjadi cakrawala”; Melihat samudra luas tanpa batas membutuhkan keberanian mutlak. Baik itu saat menaiki kapal laut di jaman dulu, maupun pesawat terbang di zaman kini. Maka tak jarang ada tradisi berpamitan dengan asumsi kematian sebelum pergi. Setiap melangkah keluar dari pintu rumahnya, keluarga sudah mengikhlaskan diri jika mereka tidak akan pernah kembali lagi ke negeri ini. Keberanian inilah yang memperluas batas cakrawala mental mereka, melampaui ketakutan akan maut demi meraih rida Illahi.
Kini, nilai-nilai filosofis dalam kutipan puisi Rendra kembali mendapatkan panggung manifestasi nyatanya pada pelaksanaan ibadah haji tahun 1447 H / 2026 M. Dari total 221.000 jemaah Indonesia, potret perjuangan paling mengharu biru datang dari kelompok risiko tinggi (risti). Tak kurang dari 170.000 jemaah Indonesia masuk kategori risti akibat komorbiditas medis, serta sekitar 44.000 di antaranya merupakan jemaah lanjut usia (lansia).
Bagi kelompok ini, fase Armuzna 2026 bukan sekadar ketahanan fisik, tapi juga ruang pembuktian iman. Di bawah terik suhu gurun yang ekstrem saat wukuf di Arafah, mereka berjuang melawan keterbatasan fisiknya. Ada pula tangis haru sekaligus pasrah saat wukuf di Arafah & mabit di Muzdalifah merangkak pelan menyusuri terowongan panjang Mina untuk melontar jumrah dengan berdesakan di lautan manusia berbagai bangsa. Banyak yang harus berkursi roda atau didampingi intensif karena penyakit asma, jantung, dan hipertensi yang muncul lagi akibat kelelahan ekstrem.
Pengorbanan ini tentu adalah buah kesadaran, kesabaran dan keberanian yang nyata demi mengejar gelar mabrur di tanah suci tanah tercinta Nabinya. Ini juga adalah manifestasi atau perjuangan wujud pelaksanaan dari iqrar iman pada hati dan lisannya saat bersyahadat di tiap harinya. Semua dilakukan dengan semangat menyala berkayu bakar kesadaran, kesabaran dan keberanian.
"Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata."
Semoga mabrur hajinya semua Jamaah pejuang iman dari Indonesia.
Penulis : Rosnendya Yudha Wiguna, S.H., M.Si. (Direktur Syi’ar – Pusat Studi LONTAR NUSANTARA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....