Pamriadi, Lahir dari Pemilu, Tumbuh dalam Politik Pengabdian

  • 30 Mei 2026 14:12 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Di tengah riuh rendah pesta demokrasi nasional tahun 1997, ketika jutaan rakyat Indonesia berbondong-bondong menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menentukan arah perjalanan bangsa, sebuah peristiwa lain yang tidak kalah penting sedang berlangsung di sebuah keluarga sederhana. Saat sebagian besar masyarakat menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum Republik Indonesia, seorang ayah bernama Pak Mahmud justru tidak berangkat ke TPS.

Ia memilih mendampingi istrinya yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka. Pada momentum itulah lahir seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Pamriadi.

Nama tersebut bukanlah nama yang lahir tanpa makna. Ia merupakan akronim yang dirangkai dari sebuah peristiwa sejarah keluarga yang beririsan langsung dengan sejarah demokrasi bangsa.

"PAM" berasal dari kata Pamilu dalam bahasa Sunda atau Pemilu dalam bahasa Indonesia, "RI" merupakan singkatan dari Republik Indonesia, sedangkan "ADI" dimaknai sebagai representasi Ayah dan Ibu, dua sosok yang menjadi sumber kehidupan, kasih sayang, pendidikan, dan perjuangan bagi seorang anak.

Dengan demikian, nama Pamriadi bukan sekadar identitas administratif, melainkan sebuah penanda sejarah yang merekam pertemuan antara peristiwa keluarga dan peristiwa kebangsaan. Ia lahir di tengah momentum demokrasi, ketika negara sedang menjalankan salah satu mekanisme terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejarah sering kali mencatat tokoh-tokoh besar melalui keputusan yang mereka ambil, tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa perjalanan seseorang kerap dimulai dari sebuah kisah sederhana yang sarat makna. Nama Pamriadi seolah menjadi simbol bahwa kehidupan individu dan perjalanan bangsa sesungguhnya saling terhubung.

Di satu sisi terdapat keluarga yang sedang menyambut kehidupan baru. Sementara di sisi lain terdapat bangsa yang sedang menentukan masa depannya melalui proses demokrasi.

Seiring berjalannya waktu, makna yang terkandung dalam nama tersebut tidak berhenti sebagai cerita kelahiran. Pamriadi tumbuh dalam dinamika sosial dan politik yang terus berkembang.

Ia menyaksikan berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat, memahami kompleksitas persoalan pembangunan, serta belajar bahwa politik tidak semata-mata berbicara tentang kekuasaan, melainkan tentang kemampuan menghadirkan manfaat bagi kehidupan rakyat.

Pengalaman sosial yang panjang membentuk dirinya menjadi sosok yang dikenal memiliki kemampuan komunikasi politik, pengorganisasian masyarakat, serta kemampuan membangun jejaring yang kuat. Ia memahami bahwa keberhasilan dalam politik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara di atas panggung, tetapi juga oleh kemampuan mendengar aspirasi masyarakat, merawat hubungan sosial, dan membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.

Dalam perjalanan tersebut, Pamriadi tidak hanya membangun kapasitas dirinya sendiri. Ia juga berperan dalam mendorong tumbuhnya kepemimpinan di lingkungan terdekatnya, termasuk dalam mendukung perjalanan politik sang istri, Tuti Turimayanti, hingga memperoleh kepercayaan masyarakat dan mengemban amanah sebagai anggota legislatif di Provinsi Jawa Barat.

Keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kerja sosial, kedekatan dengan masyarakat, penguatan jaringan, serta konsistensi dalam menjaga hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat.

Dalam konteks ini, Pamriadi menunjukkan bahwa politik yang efektif bukan hanya soal memenangkan kontestasi, melainkan juga tentang membangun ekosistem sosial yang mampu melahirkan kepemimpinan dan memperkuat partisipasi publik.

Namun demikian, keberhasilan mengantarkan lahirnya kepemimpinan politik di lingkungan keluarga tidak membuat dirinya berhenti. Pamriadi tetap memilih berada di ruang pengabdian publik dengan memainkan peran-peran strategis dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat.

Ia terus membangun komunikasi dengan berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat, kalangan pemuda, komunitas keagamaan, pelaku usaha, hingga kelompok-kelompok akar rumput yang selama ini menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.

Bagi Pamriadi, politik bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk memperjuangkan perubahan. Politik harus mampu menjadi jembatan antara harapan rakyat dan kebijakan publik.

Politik harus menghadirkan solusi atas persoalan kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, serta berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat. Karena itu, ketika namanya kerap dikaitkan dengan peluang untuk menjadi Bandung Barat Satu atau memimpin Kabupaten Bandung Barat sebagai bupati, hal tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan panjang pengabdian yang sedang ditempuhnya.

Jabatan dipandang bukan sebagai simbol prestise, melainkan sebagai sarana untuk memperluas manfaat dan memperbesar ruang pelayanan kepada masyarakat. Kabupaten Bandung Barat sendiri menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Pertumbuhan penduduk, kebutuhan lapangan kerja, pengelolaan sumber daya alam, penguatan sektor pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, serta perlindungan lingkungan hidup membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya memiliki visi, tetapi juga kemampuan membangun kolaborasi dan menggerakkan seluruh potensi daerah.

Dalam konteks itulah sosok seperti Pamriadi menjadi menarik untuk dicermati. Ia lahir dari sebuah momentum demokrasi, tumbuh dalam tradisi pengabdian sosial, berkembang dalam dunia politik, dan terus berupaya menjadikan politik sebagai alat perjuangan bagi masyarakat. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa demokrasi sejatinya tidak berhenti pada bilik suara, melainkan harus berlanjut dalam bentuk kerja nyata yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

Kisah Pamriadi sekaligus mengingatkan bahwa setiap nama menyimpan sejarah, setiap sejarah melahirkan nilai, dan setiap nilai akan menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam tindakan. Dari ruang bersalin pada hari Pemilu 1997 hingga perjalanan panjang dalam dunia politik dan pengabdian publik, nama Pamriadi menjadi simbol tentang bagaimana sebuah peristiwa sederhana dapat tumbuh menjadi inspirasi mengenai kepemimpinan, ketekunan, dan komitmen terhadap masyarakat.

Pada akhirnya, perjalanan tersebut bukan semata tentang seorang individu, melainkan tentang keyakinan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan manusia-manusia yang bersedia mengabdikan diri untuk kepentingan yang lebih besar. Dan mungkin, itulah makna terdalam yang terkandung dalam nama Pamriadi: lahir dari momentum demokrasi, tumbuh bersama rakyat, dan terus berjuang untuk masa depan daerah serta bangsanya.

Penulis; Haris Bunyamin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....