Demografi Perjalanan Leisure pada Generasi Milenial dan Z
- 04 Mar 2026 10:52 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung-Perjalanan leisure atau perjalanan untuk tujuan rekreasi telah menjadi bagian integral dari gaya hidup masyarakat modern, khususnya di kalangan generasi muda. Dalam konteks Indonesia, fenomena ini semakin menonjol seiring dengan dominasi generasi milenial dan Z dalam struktur demografi nasional.
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa individu yang lahir antara tahun 1981 hingga 2012, termasuk generasi Milenial dan Generasi Z, yang melakukan perjalanan keluar kabupaten atau kota pada periode 1 Januari hingga 31 Desember 2023, bukan untuk keperluan sekolah atau bekerja. Namun dengan tujuan rekreasi, olahraga, atau belanja memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
Generasi milenial dan Z merupakan kelompok terbanyak yang melakukan perjalanan leisure di Indonesia dengan proporsi mencapai 63,43 persen dari total pelaku perjalanan. Artinya, sekitar enam dari sepuluh penduduk yang bepergian di Indonesia pada tahun tersebut berasal dari dua generasi ini.
Hal ini menegaskan peran strategis generasi muda sebagai penggerak utama sektor pariwisata domestik di era bonus demografi. Motivasi utama yang mendorong generasi milenial dan Z untuk melakukan perjalanan leisure sangat beragam, mulai dari keinginan untuk pengembangan diri, pemenuhan kebutuhan psikologis seperti "healing", hingga pengaruh kuat dari media sosial.
Sebagian besar pelaku leisure dari generasi ini tinggal di wilayah perkotaan, belum menikah, berpendidikan menengah-tinggi, dan bukan kepala rumah tangga. Mereka juga cenderung memiliki akses internet, rekening bank, dan berasal dari kelompok desil pengeluaran menengah ke atas.
Sebanyak 69,31 persen generasi milenial dan Z yang bepergian untuk leisure tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan sisanya 30,69 persen berasal dari perdesaan. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda di kota relatif lebih aktif dalam kegiatan wisata dibandingkan mereka yang tinggal di perdesaan.
Kehidupan kota yang sibuk dan padat juga mendorong pentingnya kegiatan perjalanan leisure sebagai aktivitas pelepas penat dan bagian dari konsep work-life balance. Distribusi pelaku leisure berdasarkan jenis kelamin menunjukkan komposisi yang relatif seimbang, dengan perempuan mencatat proporsi sedikit lebih tinggi (52,10 persen) dibandingkan laki-laki (47,90%).
Temuan ini menarik karena secara tradisional, perempuan seringkali menghadapi lebih banyak kendala dalam melakukan perjalanan, seperti tanggung jawab keluarga dan keterbatasan akses. Namun, pergeseran nilai dan peran perempuan dalam masyarakat, peningkatan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, serta kemandirian finansial, memungkinkan perempuan muda masa kini untuk lebih terbuka dalam mengeksplorasi pengalaman baru melalui perjalanan leisure.
Penelitian Khan (2011) menyatakan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kendala sosio-demografis masing-masing untuk leisure, di mana pekerjaan merupakan kendala utama bagi laki-laki, sementara tanggung jawab keluarga menjadi kendala utama bagi perempuan.
Mayoritas generasi milenial dan Z yang melakukan perjalanan leisure adalah mereka yang belum kawin (54,23 persen), diikuti oleh yang sudah kawin (44,33 persen), dan sisanya berstatus cerai (1,40persen). Dominasi kelompok belum menikah dalam aktivitas leisure mencerminkan adanya keterkaitan antara status perkawinan dan tingkat fleksibilitas dalam mengatur waktu serta sumber daya pribadi.
Mereka yang belum memiliki pasangan atau tanggung jawab keluarga umumnya memiliki kontrol yang lebih luas atas waktu luang, alokasi pengeluaran, serta kebebasan dalam mengambil keputusan perjalanan. Penelitian Lee dan Bhargava (2009) menemukan bahwa pasangan menikah cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu untuk menikmati waktu luang dibandingkan dengan orang yang lajang.
Fenomena penundaan pernikahan di kalangan generasi muda Indonesia juga turut berkontribusi pada tingginya partisipasi kelompok belum menikah dalam aktivitas leisure. Sebagian besar generasi milenial dan Z yang melakukan perjalanan leisure tercatat sebagai bukan kepala rumah tangga (non-KRT), dengan proporsi mencapai 83,67 persen, sedangkan hanya 16,33% yang berstatus sebagai KRT.
Mayoritas generasi milenial dan Z yang melakukan perjalanan leisure memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi, yakni pendidikan menengah sebesar 40,35 persen dan pendidikan tinggi sebesar 26,14. Komposisi ini mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk pola perilaku leisure di kalangan generasi muda.
Pendidikan tidak hanya meningkatkan literasi dan kapasitas kognitif seseorang dalam memahami manfaat rekreasi, tetapi juga membuka akses terhadap berbagai sumber informasi terkait gaya hidup sehat, perencanaan perjalanan, serta pengelolaan waktu dan keuangan. Individu generasi milenial dan Z yang memiliki tingkat pendidikan tinggi (diploma ke atas) memiliki peluang 1,32 kali lipat lebih besar dibandingkan individu yang berada di tingkat pendidikan dasar dalam melakukan perjalanan leisure.
Individu pada tingkat pendidikan menengah (SMA/sederajat) memiliki peluang 1,15 kali lipat lebih besar dibandingkan mereka yang berpendidikan dasar. Motivasi generasi milenial dan Z dalam melakukan perjalanan leisure sangat beragam.
Terdapat tiga motivasi utama yang menonjol: Sebanyak 8 dari 10 orang yang melakukan perjalanan dengan maksud untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan adalah generasi milenial dan Z. Hal ini membuktikan adanya kebutuhan pengembangan diri dan peningkatan kompetensi di kalangan generasi muda yang memotivasi mereka untuk melakukan perjalanan dengan alasan ini.
Alasan terbesar lainnya yang mendorong generasi milenial dan Z melakukan perjalanan adalah kebutuhan psikologis dalam bentuk "healing". Banyaknya proporsi kaum milenial dan Z yang melakukan perjalanan terakhir untuk kegiatan olahraga, rekreasi, maupun berbelanja menunjukkan bahwa aktivitas leisure dipandang sebagai kebutuhan psikologis untuk melepaskan stres dari banyaknya tugas dan tekanan hidup.
Fenomena "healing" ini sangat menonjol di kalangan Gen Z, yang hidup di lingkungan serba cepat, penuh tuntutan akademik, sosial, dan produktivitas. Sebagian besar keputusan perjalanan Generasi Z dipengaruhi oleh media sosial, baik dalam memilih destinasi, akomodasi, atraksi, maupun tempat makan.
Media sosial juga menjadi arena untuk membagikan pengalaman perjalanan, membangun citra sosial, dan memperoleh pengakuan dari komunitas digital. Pemerintah perlu memperhatikan pemerataan akses internet, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, serta jaminan keamanan, untuk memastikan bahwa aktivitas leisure dapat diakses secara inklusif dan berkelanjutan oleh seluruh generasi muda Indonesia.
Pengembangan destinasi wisata yang ramah generasi muda, terjangkau, dan mudah diakses juga menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata domestik dan kesejahteraan generasi muda. Kebijakan dan strategi pengembangan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan ramah generasi muda dan dengan memahami karakteristik dan motivasi generasi milenial dan Z dalam perjalanan leisure, diharapkan sektor pariwisata Indonesia dapat tumbuh lebih dinamis dan memberikan kontribusi optimal bagi pembangunan nasional.
(Penulis: Soependi, S.Si., MA, Statistisi Ahli Madya, BPS Kota Jakarta Pusat)
Referensi : Badan Pusat Statistik. (2025). Cerita Data Statistik untuk Indonesia: Generasi Milenial dan Z dalam Dinamika Perjalanan Leisure: Siapa Mereka dan Apa Motivasinya? (Vol. 2, No. 8). BPS.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....