Mengembalikan Ruh Pendidikan: Seruan Refleksi Kasus Kekerasan di-Sekolah
- 17 Okt 2025 21:07 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Praktisi pendidikan Idris Apandi menyerukan pentingnya mengembalikan ruh pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, di tengah maraknya kasus kekerasan di satuan pendidikan yang kerap menimbulkan polemik publik.
Dalam artikelnya yang berjudul “Mengembalikan Ruh Pendidikan: Refleksi Penanganan Kasus Kekerasan di Satuan Pendidikan dan Tantangan Memanusiakan Manusia,” Idris mengajak semua pihak untuk meninjau kembali filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tiga pusat penting dalam membentuk karakter anak. “Pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan proses membentuk manusia yang utuh, beradab, dan bertanggung jawab,” tulis Idris.
Baca juga:Dosen Tel-U Torehkan Prestasi Tingkat Asia-Pasifik 2025
Namun, ia menyoroti bahwa peran keluarga kini semakin terpinggirkan. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, sementara mereka sendiri sibuk dengan pekerjaan dan gawai.
Hal ini, menurut Idris, menjadi akar dari berbagai persoalan perilaku di sekolah dari ketidakpatuhan hingga hilangnya empati anak terhadap sesama. “Ironisnya, saat anak bermasalah di sekolah, orang tua cenderung membela anak tanpa mencari tahu duduk persoalan secara utuh,” ungkapnya.
Idris juga menyoroti realitas pahit yang dihadapi para guru saat ini. Banyak dari mereka berada dalam dilema ketika harus menegakkan disiplin. Di satu sisi, mereka dituntut untuk mendidik karakter murid, tetapi di sisi lain, sikap tegas bisa disalahartikan sebagai kekerasan.
“Ketika guru takut menegur murid, maka pendidikan kehilangan ruhnya. Guru hanya mengajar, tidak lagi mendidik,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa guru sering kali terjebak dalam tekanan publik akibat viralnya kasus di media sosial, meskipun belum tentu terbukti bersalah.
Dalam tulisannya, Idris mendorong penanganan kasus kekerasan di sekolah dilakukan secara musyawarah dan objektif melalui Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (TPPKSP) yang sudah dibentuk di sekolah-sekolah. Ia menilai publik terlalu cepat menghakimi guru hanya karena narasi sepihak yang viral di media sosial.
“Tidak semua kesalahan guru layak dibawa ke media sosial atau ranah hukum. Kita punya mekanisme internal yang lebih beradab dan edukatif,” tegasnya.
Idris menawarkan pendekatan disiplin positif dan metode segitiga restitusi sebagai solusi untuk membangun karakter murid tanpa harus menggunakan kekerasan. Dalam pendekatan ini, guru mengajak murid untuk merefleksikan kesalahannya melalui dialog, bukan dengan hukuman semata.
“Teguran guru adalah bentuk kasih sayang, bukan kekerasan. Jika murid paham bahwa disiplin bertujuan membentuk dirinya, bukan menjatuhkan, maka ia akan tumbuh dengan kesadaran moral,” paparnya.
Namun demikian, ketika perilaku menyimpang terus berulang, kolaborasi dengan orang tua sangat dibutuhkan. “Pendidikan yang berhasil adalah yang melibatkan semua pihak: guru, orang tua, dan masyarakat,” tambahnya.
Idris Apandi mengingatkan bahwa pendidikan hanya akan berhasil jika ada sinergi, empati, dan komunikasi yang tulus antar pihak. Ia menyerukan agar semua elemen kembali memuliakan peran guru, bukan menjadikannya sasaran ketakutan dan ketidakpercayaan. “Sudah saatnya kita berhenti menghakimi guru di media sosial dan mulai membangun dialog. Pendidikan tidak akan pernah berhasil jika guru terus dibungkam oleh rasa takut,” tegasnya.
Melalui refleksi ini, Idris berharap masyarakat bisa kembali pada esensi pendidikan sebagai sarana untuk membentuk manusia berkarakter, bukan sekadar mencetak nilai akademik semata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....