Prevalensi Kasus Stunting Kabupaten Subang Turun 6,3 Persen
- 06 Jan 2026 16:44 WIB
- Bandung
KBRN, Subang : Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Subang, pada tahun 2025, berhasil menurunkan prevalensi kasus stunting, dari angka 18,7 persen, menjadi 12,4 persen, atau menurun sekitar 6,3 persen. Keberhasilan ini diungkapkan Kepala Bidang Pembangunan Ketahanan Keluarga DP2KBP3A Kabupaten Subang Upit Nurhayati kepada RRI di Subang, Selasa (6/1/2025).
Keberhasilan tersebut, lanjut Upit, berkat seluruh Tim Percepatan Penanganan Kasus Stunting Kabupaten Subang, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa/kelurahan, turun langsung ke lapangan. Menyasar seluruh sasaran, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui, serta balita.
Baca juga:Galuh Pakuan Siapkan Satu Miliar untuk Multievent 2026
"Alhamdulillah, penurunan kasus stunting di Kabupaten Subang pada tahun 2025 kemarin, menurun 6,3 persen. Ini capaian yang cukup signifikan yang pernah kita capai," ujar Upit.
Sisa prevalensi kasus stunting 12,4 persen, kata dia, menjadi pekerjaan rumah Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) di semua tingkatan, di tahun 2026 ini. Tentunya keberhasilan penanganan tahun 2025 kemarin, menjadi acuan penanganan kasus stunting di tahun 2026.
"Ya 12,4 persen prevalensi kasus stunting di tahun 2026 ini, menjadi target sasaran TPPS, untuk kembali kita turunkan lagi, yang terpenting di tahun 2030, Subang tidak ada lagi kasus stunting baru," tegasnya.
Di singgung tentang target penurunan prevalensi kasus stunting di tahun 2026, Upit belum bisa menentukan. Karena menurutnya, target dari provinsi dan pusat belum diterima oleh Kabupaten Subang.
"Namun angka prevalensi kasus stunting Kabupaten Subang, selalu di bawah provinsi dan pusat," ujarnya.
Namun kuncinya, ditambahkan dia, keberhasilan penurunan kasus stunting di Kabupaten Subang, adalah keluarga, terutama keluarga sasaran, mulai dari calon pengantin, ibu hani, ibu menyusui dan juga balita. Karena keluarga menjadi sasaran edukasi dan sosialisasi TPPS.
"Jika calon pengantinnya sehat, ibu hamilnya sehat, ibu menyusulnya sehat, dan balitanya sehat, sudah barang tentu, tidak akan terkena stunting. Jadi TPPS yang harus lebih gencar lagi memberikan edukasi dan sosialisasi kepada keluarga, dan keluarga menjadi tulang punggung berhasil atau tidaknya penanganan stunting tersebut," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....