Soeratin, Insinyur Dibalik Lahirnya PSSI

  • 30 Sep 2026 09:09 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Jauh sebelum sepak bola Indonesia berkembang menjadi industri olahraga seperti sekarang, ada sosok insinyur yang melihat lapangan hijau sebagai ruang untuk membangun persatuan dan semangat kebangsaan, yakni Ir. Soeratin Sosrosoegondo.

Kisah tersebut diulas dalam tayangan kanal YouTube Rumble Zine yang dipublikasikan pada 29 September 2026. Soeratin dikenal sebagai insinyur sipil lulusan sekolah teknik di Heckelenburg, Jerman, pada 1927, yang kemudian memilih aktif dalam pergerakan dan menjadi tokoh penting di balik berdirinya PSSI.

Setelah kembali ke Indonesia, Soeratin sempat bekerja di perusahaan konstruksi milik Belanda di Yogyakarta. Namun, kecintaannya terhadap sepak bola dan semangat kebangsaan mendorongnya mengembangkan gagasan tentang organisasi sepak bola yang dapat menjadi wadah pemersatu pemuda Indonesia sekaligus menghadapi dominasi sepak bola kolonial.

Gagasan tersebut dimatangkan melalui pertemuan dengan sejumlah tokoh sepak bola di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, dan daerah lainnya. Pertemuan dilakukan secara hati-hati untuk menghindari pengawasan Polisi Hindia Belanda atau PID. Pada 19 April 1930, perwakilan berbagai organisasi sepak bola pribumi berkumpul di Yogyakarta dan mendirikan Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai PSSI.

Di bawah kepemimpinan Soeratin, sepak bola tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan kebangsaan. PSSI kemudian menyusun program kompetisi antarperserikatan dan mulai menggelar pertandingan secara rutin sejak 1931, sehingga sepak bola semakin berkembang sebagai ruang pertemuan dan persatuan masyarakat Indonesia.

Soeratin tercatat sebagai Ketua Umum pertama PSSI dan memimpin organisasi tersebut selama 1930 hingga 1940. Setelah masa kepemimpinannya, ia tetap dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, ia juga tercatat terlibat dalam Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat Letnan Kolonel.

Warisan Soeratin masih melekat hingga sekarang melalui Piala Soeratin, kompetisi sepak bola usia muda yang menggunakan namanya. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa sejarah sepak bola Indonesia tidak hanya berbicara tentang pertandingan dan prestasi, tetapi juga tentang organisasi, persatuan, dan perjuangan membangun identitas bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....