Manajer Klub Cimahi Putra Soroti Lapangan dan Biaya Piala Soeratin 2026
- 19 Agt 2026 10:24 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Manajer Tim Cimahi Putra, Dadan Rohimat, menyoroti sejumlah persoalan dalam pelaksanaan Piala Soeratin 2026 di Jawa Barat. Menurutnya, salah satu masalah utama yang masih dihadapi klub peserta adalah kondisi lapangan yang digunakan sebagai lokasi pertandingan.
Dadan menilai, kualitas lapangan menjadi faktor penting dalam menentukan mutu sebuah kompetisi. Ia berharap pertandingan tingkat provinsi tidak hanya mengejar terlaksananya agenda, tetapi juga memperhatikan kelayakan fasilitas agar pemain muda dapat bertanding dengan aman dan nyaman.
“Yang pertama itu lapangan. Penunjukan tuan rumah selalu menjadi persoalan karena klub disarankan menjadi tuan rumah, dengan alasan anggaran yang tidak ada atau tidak cukup,” ujar Dadan Rohimat.Rabu 19 Agustus 2026.

Menurutnya, persoalan kondisi lapangan bukan sesuatu yang baru terjadi pada Piala Soeratin 2026. Dari tahun ke tahun, keluhan mengenai lapangan yang belum memenuhi standar kompetisi masih terus dirasakan klub peserta.
“Dengan kondisi lapangan seperti itu, dari tahun ke tahun masih saja sama. Minimal lapangan harus memenuhi standar. Bagaimana kompetisi mau bagus dan kualitas pertandingan meningkat kalau lapangannya tidak standar,” katanya.
Selain persoalan lapangan, Dadan juga menyoroti biaya yang harus dikeluarkan klub untuk mengikuti kompetisi. Ia menyebut biaya pendaftaran Piala Soeratin terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun dan pada 2026 kembali menjadi beban bagi klub.
“Setiap kompetisi berbayar. Tahun ke tahun naik, sekarang Rp4 juta untuk satu tim usia 15 tahun. Kalau usia 17 tahun, biayanya Rp4,5 juta,” ungkapnya.

Untuk wilayah Bandung Raya sendiri, Dadan menyebut jumlah peserta Piala Soeratin 2026 cukup banyak. Khusus kategori U-15, tercatat sekitar 30 peserta yang ambil bagian, sementara jumlah tersebut belum termasuk peserta dari kelompok usia lainnya maupun zona lain di Jawa Barat.
“Total untuk Bandung Raya ada 30 peserta. Itu baru Bandung Raya, belum Tasik Raya, Puncak Raya dan zona lainnya. Ada sekitar lima zona, sedangkan angka 30 peserta itu untuk U-15 dan belum termasuk U-13 maupun U-17,” jelas Dadan.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Dadan berharap PSSI dapat lebih aktif hadir bersama klub-klub peserta. Menurutnya, kehadiran organisasi sepak bola tidak sebatas menjalankan agenda kompetisi, tetapi juga memastikan kebutuhan serta keluhan klub mendapatkan perhatian.
“Harapan saya, PSSI itu hadir di tengah-tengah klub. Jadi bukan PSSI malah seperti menjadi EO. Kalau pihak swasta menjadi event organizer dan menarik biaya, itu wajar, tetapi kalau PSSI, kami berharap lebih hadir mendampingi klub,” tegasnya.
Dadan mengatakan, klub membutuhkan komunikasi dan pendampingan yang lebih nyata dari PSSI. Menurut dia, jangan sampai keberadaan PSSI hanya sebatas memenuhi kewajiban administrasi dan menerbitkan surat izin, sementara persoalan yang dirasakan klub tidak mendapatkan penyelesaian.
“Keluhan klub itu harus didengar. Jangan hanya sebatas menggugurkan kewajiban melaksanakan surat izin, tetapi nilai kehadirannya tidak dirasakan oleh klub,” tuturnya.
Ia juga mempertanyakan kualitas penyelenggaraan di tingkat provinsi ketika dibandingkan dengan kompetisi tingkat kota atau kabupaten. Menurut Dadan, klub justru kerap menemukan fasilitas yang lebih baik ketika mengikuti kompetisi di tingkat lokal.
“Kalau kompetisi berbayar, bisa dibilang PSSI tidak hadir. Di tingkat kota juga sama-sama berbayar, apalagi Askab. Seharusnya di tingkat provinsi pelaksanaannya bisa lebih baik,” katanya.
Dadan bahkan menilai penyelenggaraan di tingkat kota terkadang memiliki fasilitas yang lebih memadai. Ia menyebut kondisi lapangan pada kompetisi tingkat kota atau kabupaten justru dinilai lebih baik dibandingkan lokasi pertandingan Piala Suratin di tingkat provinsi.
“Kenapa pelaksanaan di tingkat provinsi malah kurang dibandingkan Askot? Menurut saya, lebih baik Askot. Di tingkat kota atau kabupaten, lapangannya justru bagus,” ujarnya.

Sebagai manajer Cimahi Putra, Dadan memastikan klubnya mengikuti Piala Soeratin 2026 dengan menurunkan dua kelompok usia. Cimahi Putra mengirimkan tim U-15 dan U-17 untuk berkompetisi sekaligus memberikan pengalaman bertanding kepada para pemain muda.
“Dari klub Cimahi Putra, kami mengikuti Piala Soeratin untuk usia 15 dan 17 tahun,” kata Dadan.
Untuk mengikuti dua kategori tersebut, Cimahi Putra harus menyiapkan total biaya sebesar Rp9,5 juta. Dadan menjelaskan, biaya tersebut menjadi tanggung jawab bersama antara manajemen klub dan orang tua pemain melalui sistem iuran.
“Total yang harus kami bayar Rp9,5 juta. Kami melihatnya dari sisi pemain dan orang tua. Jadi, mereka ikut urunan, kemudian sebagian kekurangannya ditambah oleh manajemen,” ungkapnya.
Dadan mengaku keberatan dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan klub, terlebih jika tidak diikuti dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan. Ia berharap biaya yang dibebankan kepada klub sebanding dengan fasilitas dan sistem kompetisi yang diterapkan.
“Ya, sangat keberatan. Setiap event harus berbayar dengan biaya yang cukup mahal. Kalau memang berbayar mahal, kami berharap ada perubahan sistem, lapangannya bagus dan penyelenggaraannya lebih baik,” tegasnya.
Menurut Dadan, sistem kompetisi juga perlu menjadi bahan evaluasi karena jumlah pertandingan yang dijalani setiap tim dinilai terlalu sedikit. Dengan format satu grup yang hanya berisi tiga tim, klub hanya mendapatkan kesempatan bermain sebanyak dua kali sehingga dianggap kurang ideal untuk pembinaan pemain usia muda.
“Apalagi kalau sistemnya liga, seharusnya pertandingan lebih banyak. Ini satu grup hanya tiga tim, jadi kami hanya bermain dua kali. Untuk sebuah kompetisi pembinaan, menurut kami jumlah pertandingan itu masih sangat minim,” pungkas Dadan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....