PSSI Jabar Genjot SDM Pelatih dan Infrastruktur Sepak Bola

  • 04 Apr 2026 08:02 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama dalam membangun prestasi sepak bola di Jawa Barat. Upaya tersebut dinilai krusial untuk menciptakan ekosistem pembinaan yang kuat dan berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI Provinsi Jawa Barat, Vivin Cahyani, menegaskan bahwa pencapaian prestasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, seluruh aspek harus dibenahi secara menyeluruh, mulai dari SDM hingga infrastruktur.

Ia menjelaskan, dengan jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai sekitar 50 juta jiwa, potensi pengembangan sepak bola sangat besar. Namun, jumlah pelatih berlisensi yang saat ini baru sekitar 2.000 orang dinilai masih jauh dari ideal.

“Dari 50 juta penduduk, kita baru punya sekitar 2.000 pelatih berlisensi. Itu jumlah yang sangat sedikit dan harus kita kejar,” ujar Vivin dalam Launching Liga Jabar Istimewa 2026 dan halal bihalal sepak bola Jabar di Aula Asprov PSSI Jabar, Jalan Lodaya, Kota Bandung, Jumat 3 April 2026.

Sebagai langkah konkret, PSSI Jawa Barat menargetkan peningkatan jumlah pelatih melalui program lisensi, khususnya lisensi D sebagai tingkat dasar. Program ini juga disertai pemberian insentif untuk menarik minat masyarakat mengikuti pelatihan kepelatihan.

“Kita berikan insentif, cukup dengan Rp500 ribu sudah bisa ikut lisensi D. Target awal kita mencetak sekitar 2.500 pelatih,” katanya.

Selain itu, PSSI Jabar bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan tambahan 2.500 pelatih berlisensi pada tahap berikutnya. Dengan demikian, total target tahun ini mencapai 5.000 pelatih berlisensi, atau sekitar 60 persen dari target nasional sebanyak 9.000 pelatih.

“Kualitas SDM ini yang menentukan maju atau tidaknya sepak bola. Pelatih tanpa lisensi tentu sulit mencetak pemain berkualitas,” tegasnya.

Di sisi lain, Vivin juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur, khususnya ketersediaan lapangan sepak bola. Ia berharap program “satu kecamatan satu lapangan” dapat segera direalisasikan untuk menunjang pembinaan usia dini.

“Kalau pelatih sudah banyak, anak-anak juga antusias, tapi lapangan terbatas dan mahal, tentu ini jadi hambatan besar dalam mencetak pemain,” ungkapnya.

Vivin turut menekankan pentingnya program “Satu Anak Satu Bola” atau SIMPLE dalam pembinaan usia dini. Ia menyebut keterbatasan sarana latihan, terutama jumlah bola, masih menjadi kendala di banyak sekolah sepak bola.

“Bayangkan satu pelatih menangani 20 anak tapi hanya punya 20 bola, bahkan ada yang lebih sedikit. Bagaimana anak bisa maksimal kalau harus antre lama,” jelasnya.

Ia berharap seluruh program tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, termasuk melalui penganggaran dinas terkait. Menurutnya, langkah cepat dan kolaboratif akan sangat menentukan keberhasilan peningkatan kualitas pembinaan sepak bola di Jawa Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....