Timo Scheunemann: Konsistensi Kunci Prestasi Sekolah Sepak Bola
- 01 Feb 2026 15:58 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pelatih kepala MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheuneman, menilai persaingan antarsekolah sepak bola di Bandung semakin kompetitif. Hal itu tercermin dari hasil juara yang terus berganti dalam dua hingga tiga seri terakhir penyelenggaraan turnamen. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan kualitas peserta yang semakin merata berkat keseriusan sekolah dalam membina latihan.
“Kalau kita lihat, juara di Bandung ini selalu berganti. Pertanyaannya, apakah kualitasnya makin merata atau sekolah-sekolah yang dulu berhenti lebih awal sekarang berlatih lebih serius. Menurut saya, ini bukti bahwa konsistensi latihan mulai terlihat hasilnya,” ujar Timo.di Lapangan Candradimuka Pusdikif.Minggu 1 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa karena MilkLife Soccer Challenge bersifat antarsekolah, kunci utama keberhasilan terletak pada komitmen sekolah dalam menjalankan program latihan yang berkelanjutan. Timo menilai frekuensi latihan sangat berpengaruh terhadap performa pemain.
“Sekolah yang latihan satu kali seminggu dengan yang dua atau tiga kali seminggu itu sudah beda. Apalagi yang baru latihan saat mau turnamen, itu sudah tidak bisa bersaing,” katanya.
Lebih jauh, Timo menilai pola latihan instan justru tidak sejalan dengan tujuan utama pembinaan usia dini. Ia menekankan bahwa sepak bola di level sekolah dasar harus menjadi sarana pendidikan karakter.
“Kami ingin anak-anak belajar disiplin, belajar proses, dari ‘saya tidak bisa’ menjadi ‘saya bisa’. Itu hasil kerja keras dan kedisiplinan,” ujarnya.
Ia mencontohkan sekolah juara seperti Soka yang dinilai konsisten sejak awal mengikuti program. Meski demikian, Timo menegaskan bahwa meraih gelar juara bukan tujuan utama.
“Sekolah itu punya talent pool yang naik turun. Yang penting mereka serius berlatih. Dengan waktu, mereka bisa mendapatkan pemain bagus dan hasil yang optimal,” tuturnya.
Baca Juga: Kalahkan Persis 1-0, Persib Bandung Kokoh di Puncak
Timo menekankan bahwa orientasi utama program ini adalah keselarasan dengan pendidikan dan pembentukan karakter anak. “Harapan saya, semua sekolah paham bahwa juara itu bukan nomor satu. Nomor satu adalah program yang selaras dengan pendidikan dan karakter anak,” tegasnya.
Selain kompetisi antarsekolah, Timo juga menjelaskan perbedaan konsep dengan program Hydro Plus yang berbasis Sekolah Sepak Bola (SSB). Dalam MilkLife Soccer Challenge, talenta digabungkan dalam tim all-star antarkota.
“All-star Bandung nanti akan dilawankan dengan Tangerang, Bekasi, Malang, Surabaya, dan puncaknya di Kudus,” jelasnya.
Menurut Timo, program ini telah berjalan lebih dari dua tahun dan dilengkapi dengan extra training seminggu sekali. Namun, pihaknya tidak menggantikan peran SSB.
“Kami justru mendorong mereka mencari SSB. Kami ingin membangun ekosistem dari SD, supaya nanti di SMP dan SMA mereka siap masuk SSB dan jenjang lebih tinggi,” katanya.
Ia menutup dengan optimisme terhadap masa depan sepak bola putri Indonesia. “Kami punya data bank talenta yang terus diperbarui. Ini kerja akar rumput, kerja keras. Tapi dengan kerja sama Djarum Foundation, MilkLife, dan PSSI, saya yakin ekosistem ini akan luar biasa dan ujungnya Timnas putri Indonesia bisa jauh lebih baik,” pungkas Timo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....