Kontestan Liga 4 Jabar Keluhkan Lapangan Tak Layak

  • 28 Okt 2025 16:14 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Sejumlah tim peserta Liga 4 Seri 2 Piala Gubernur Jawa Barat 2025 menyampaikan keluhan terhadap kondisi lapangan yang digunakan selama pertandingan. Mereka menilai sejumlah venue tidak memenuhi standar kelayakan, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah pertandingan.

Beberapa lapangan yang menjadi lokasi pertandingan berubah menjadi “kubangan kerbau” dan tidak bisa digunakan, sehingga panitia pelaksana (Panpel) terpaksa mengubah seluruh jadwal pertandingan.

Salah satunya terjadi di Lapangan Mandala Mukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tempat berlangsungnya laga Grup D (Java One Top, R-MIFA, Perssi, Maung Bandung FC) dan Grup E (Bionsa Putra Kencana, Inspire Indonesia, UNI Bandung, Bandung Legend).

Karena kondisi lapangan yang tergenang air dan becek, Panpel mengubah total jadwal pertandingan menjadi pukul 08.00 WIB, 10.00 WIB, 13.00 WIB, dan 15.00 WIB agar seluruh laga tetap bisa digelar.

Pemilik Maung Bandung FC, Denny Susanto, mengaku kecewa dengan kondisi lapangan tersebut. Menurutnya, standar venue yang digunakan tidak mencerminkan kualitas turnamen sekelas Liga 4.

“Lapangan ini tidak layak pakai. Saat hujan turun, air menggenang di mana-mana. Ukurannya pun hanya 50 x 90 meter, masih lebih bagus Lapangan Lodaya yang 54 x 96. Kompetisi sekelas Liga 4 seharusnya tidak seperti ini, terkesan abal-abal,” keluh Denny.

Ia menambahkan, kondisi tersebut sangat merugikan tim yang sudah melakukan persiapan matang jauh-jauh hari.

“Banyak kekurangan yang bisa saya sampaikan. Intinya, standar kompetisi harus dijaga. Saat Piala Bandung Utama dulu, pelaksanaannya jauh lebih baik,” ujarnya.

Masalah Serupa di Depok

Keluhan serupa juga datang dari peserta yang bertanding di Banjaran Football Club Kota Depok, tempat berlangsungnya Blok 4 yang berisi Grup J (Bojong Gede Raya, Abinaya Squad, Satria Sangeni, Depok City), Grup K (Cibinong Putra, Depok United, Citeureup Raya, GWR Family Raya), dan Grup L (Persikabo, Pakuan City, Diklat ISA, Bogor Raya FC).

Pertandingan sempat tertunda karena lapangan tidak dapat digunakan saat hujan turun.

“Bola tidak bisa bergulir, parah sekali ketika hujan. Waktu itu kami sedang melawan Pakuan City dan pertandingan harus dihentikan dengan skor 1-1,” ungkap Lulu Tri Rahayu, ofisial Persikabo.

Akibat kondisi tersebut, Panpel memutuskan memindahkan seluruh pertandingan Grup J, K, dan L ke Lapangan Koci di kawasan Beji, Kota Depok.

Lapangan Mini Soccer di Bandung Barat

Sementara itu, peserta yang bertanding di Lapangan Abipraya Rende, Kabupaten Bandung Barat, juga menyuarakan kekecewaan. Mereka mengeluhkan ukuran lapangan yang dianggap terlalu kecil dan tidak sesuai standar.

Lapangan tersebut digunakan untuk pertandingan Grup A (Galuh FC, Bandung Barat United, Riverside Forest, Fanshop FA), Grup B (TS Maung Garut, Progresif Indonesia, R2B Legend, Liga 4 Kota Bandung), dan Grup C (Bara Siliwangi, Germanesia, WBFC, Rancaekek FC).

“Lapangan kecil seperti ini membuat permainan sulit berkembang sesuai instruksi pelatih,” ujar salah satu pemain dari Grup A.

Ofisial tim Germanesia, Naufal, membenarkan hal tersebut.

“Benar, lapangan Abipraya Rende ini ukurannya kecil, mirip lapangan mini soccer. Untungnya tidak tergenang air, dan kami tetap bersyukur bisa menang 3–2 atas Bara Siliwangi di laga pertama,” kata Naufal.

Resmi Dibuka oleh Ketum PSSI Erick Thohir

Liga 4 Seri 2 Piala Gubernur Jawa Barat 2025 resmi dibuka oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, di Stadion Dalem Bintang RAA Adiwijaya, Kabupaten Garut, pada Minggu (26/10/2025).

Pembukaan dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Ketua Umum KONI Jabar Prof. Dr. Muhammad Budiana, Ketua Asprov PSSI Jawa Barat Tommy Apriantono, serta para ketua Askab/Askot dan perwakilan klub peserta.

Turnamen yang diikuti 44 tim dari berbagai daerah di Jawa Barat ini menjadi ajang pembinaan sepak bola daerah. Namun, keluhan terkait infrastruktur dan kelayakan lapangan menjadi catatan penting bagi penyelenggara agar kompetisi berjalan sesuai standar profesional.

“Liga ini bagus untuk regenerasi sepak bola daerah, tapi kualitas penyelenggaraan dan fasilitas harus ditingkatkan agar tidak mencederai semangat sportivitas,” ujar salah satu ofisial tim peserta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....