SMAN 1 Bandung Berkomitmen Wujudkan PPDB Berkeadilan

  • 04 Jun 2024 21:05 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Provinsi Jawa Barat tingkat SMA, SMK dan SLB tahap satu memasuki hari kedua pada Selasa (4/6/2024). Pada pelaksanaan PPDB tahun 2023 lalu, Dinas Pendidikan Jawa Barat mengungkap catatan sebanyak 4.791 kasus kecurangan yang dilakukan oleh oknum dalam proses PPDB. Kecurangan tersebut didominasi oleh pemalsuan data dalam sistem zonasi, hal ini dilakukan oleh oknum agar mampu tembus ke sekolah-sekolah yang berada di area strategis atau pusat kota.

SMA Negeri 1 Bandung, yang terletak di Jalan Ir. H. Djuanda No.93, merupakan salah satu sekolah yang berada pada area pusat kota sehingga sekolah tersebut menjadi salah satu sekolah tingkat SMA yang banyak dituju oleh siswa-siswi lulusan SMP untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Kepala sekolah dari SMAN 1 Bandung, Tuti Kurniawati, mengatakan pihak sekolahnya berkomitmen tinggi untuk mewujudkan PPDB yang jujur dan berkeadilan sehingga bersih dari kecurangan.

“Itu mungkin kecurangan banyak dilakukan oleh oknum, dari tahun kemarin kami sudah berusaha kuat untuk melaksanakan PPDB dengan integritas yang jujur dan berkeadilan. Kami berkomitmen tinggi dan semuanya kami lakukan sesuai dengan petunjuk dan regulasi yang berlaku mulai dari Peraturan Menteri, Peraturan Gubernur, dan Petunjuk Teknis PPDB. Jadi kita mengacu pada regulasi-regulasi tersebut sehingga Insyaallah tidak ada kecurangan disini bersih dan jujur,” ujar Tuti saat ditemui RRI Bandung di SMAN 1 Bandung, Selasa (4/6/24).

Tuti juga menjelaskan untuk PPDB SMAN 1 Bandung, mayoritas pendaftar sistem zonasi didominasi dari daerah-daerah terdekat dari lokasi sekolahnya. SMAN 1 Bandung sendiri memiliki kuota sejumlah 396 bangku untuk peserta didik baru pada PPDB 2024 ini.

“Mayoritas pendaftar dari sekitar area Tamansari dan Kecamatan Coblong, memang populasi calon peserta didik usia SMA selalu banyak dari tahun ke tahun, terutama daerah dekat sini yang memang populasinya padat. Untuk kuota di SMAN 1 Bandung sendiri kami ada 11 rombongan belajar, dengan masing-masing rombongan belajar sejumlah 36 calon peserta didik, jadi total kuota menjadi 396 yang terbagi kepada beberapa jalur PPDB,” kata Tuti menjelaskan

Kecurangan melalui sistem zonasi yang dilakukan oleh oknum seringkali diakibatkan pemberian label sekolah favorit oleh masyrakat pada sekolah-sekolah tertentu. Umumnya suatu sekolah diberi label sekolah favorit dipengaruhi oleh faktor tertentu, salah satunya letak lokasi sekolah yang berada di area pusat kota atau berada di pinggir jalan besar.

Plh Dinas Pendidikan Jawa Barat, M Ade Afriandi, mengatakan, pemberian label sekolah favorit sekarang ini sebetulnya sudah tidak diperbolehkan, namun tak dapat dipungkiri lokasi sekolah masih menjadi faktor utama pemberian label sekolah favorit oleh masyrakat. Sekolah yang berada di area pusat kota memiliki animo yang lebih tinggi dari masyrakat dan calon peserta didik.

“Label sekolah favorit itu sekarang sudah tidak boleh, semuanya sama demi mewujudkan pendidikan yang merata. Tapi terkait kualitas pendidikan yang merata, kita juga bisa melihat dari sisi lokasi. Seperti tadi SMAN 1 Bandung di Jalan Ir. H. Djuanda yang dilabeli sekolah favorit, nama jalan dan aktivitas di ruang tersebut juga berpengaruh terhadap animo atau image masyarakat bahwa ini sekolah favorit," kata Ade.

Kalau lokasinya terselip atau nyelap, orang tidak akan berpikir favorit. Contoh lainnya SMAN 24 Bandung, padahal terletak di daerah Ujungberung, tapi karena tepat berada di pinggir jalan besar, tidak sedikit masyarakat berpikir bahwa ini adalah sekolah favorit, walaupun sekolah-sekolah tersebut tidak menyatakan sendiri bahwa mereka adalah sekolah favorit,” kata Ade dalam acara Dialog Pagi di Studio RRI Pro 1 Bandung, Selasa (4/6/24).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....