Ini Sosok Evi Silviadi, Raja LAK Galuh Pakuan

  • 26 Mei 2024 16:25 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Sosok Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sanggabuana makin mencuat, pasca pihak RSUD Subang memutus kerjasama pengelolaan parkir dengan pihak Galuh Pakuan.

RSUD Subang yang ditenggarai menanggalkan aspek sosial, sehingga berdampak terhadap pembinaan prestasi dan keagamaan yang dilakukan pihak Galuh Pakuan. Galuh Pakuan merupakan pengelola parkir terdahulu, yang mendapat dukungan dari berbagai tokoh agama, atlet, dan budayawan. Karena sejatinya, pendapatan parkir digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan positif. Lalu siapa RM Evi Silviadi Sanggabuana yang mendeklarasikan diri sebagai Raja Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan?

"Kami ingin dipandang utuh, bukan sebagai musuh," ujar RM Evi Silviadi Sanggabuana, Minggu ( 26/5 /2024).

Mendirikan LAK Galuh Pakuan pada tanggal 18 Maret 2011, Evi yang berlatar belakang budayawan dan aktivis itu bermaksud mengembalikan Sunda Bihari, pakeun Sunda Kiwari, alaeun Sunda Baring Supagi (mencapai kejayaan Sunda dimasa lalu, masa kini dan masa yang akan datang).

Ia mengatakan, di awal kemunculan LAK Galuh Pakuan, sempat terjadi pro dan kontra. Namun seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat dan pemerintah menerima keberadaan lembaga Adat Karatwan tersebut. Terlebih LAK Galuh Pakuan terdaftar dengan resmi di akta notaris, Kemenkumham, Kemendagri dan Kesbangpol.

"Alhamdulillah, kita resmi, dan jika ingin tau, Galuh Pakuan itu sudah ada sejak zaman dulu, dan kini tergali kembali," ucap pria yang menyukai olahraga jenis bela diri itu.

Dalam kegiatannya, Galuh Pakuan konsen terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi dan menimpa masyarakat kecil.

Dalam kegiatannya, Galuh Pakuan konsen terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi dan menimpa masyarakat kecil. Oleh karenanya, banyak masyarakat yang merasa mendapat ketidakadilan mengadu ke Lembaga Adat tersebut agar permasalahan bisa terselesaikan.

"Sangat banyak, baru-baru ini ratusan Security PT PELNI yang di-PHK sepihak, meminta bantuan pada kami," kata Evi, yang mendapat gelar Abul Mustadhafin karena selalu membantu orang - orang yang lemah.

Evi mengatakan, selama LAK Galuh Pakuan berdiri, banyak prestasi yang telah ditorehkan. Sehingga mengangkat nama Kabupaten Subang di mata nasional hingga internasional, mulai dari olahraga, kebudayaan, kesenian, keagamaan dan lainnya.

"Mulai dari piala Presiden, Panglima, Menpora, medali emas, perak, perunggu di bidang olahraga dan seni. Lalu di dunia pertanian saya mendapat piala emas karena membangkitkan kembali rempah-rempah di Subang. Belum lagi di dunia pendidikan LAK Galuh Pakuan menjadi laboratorium untuk tesis dan disertasi yang ditunjuk oleh UPI-Bandung," papar Evi.

Evi menambahkan, LAK Galuh Pakuan sangat memuliakan kaum perempuan dan generasi masa depan. Hal itu terlihat dari perlakuan pihaknya, dari kegiatan-kegiatan yang ada. Mulai dari mengangkat derajat perempuan dari seni tari, olahraga, hingga di dunia pendidikan juga sosial.

"Memuliakan perempuan dan generasi masa depan itu wajib bagi LAK Galuh Pakuan," tambah dia.

Evi mengakui, LAK Galuh Pakuan memiliki pengaruh besar di Jawa Barat. Dan juga mampu bersinergis dengan organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama, Jatman, berbagai elemen, dan lembaga negara. Di mana kedepannya ia memiliki harapan besar agar Galuh Pakuan bisa semakin besar dan mandiri dalam waktu delapan tahun ke depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....