Ratusan Pekerja Kena PHK di Cianjur Unras

  • 25 Mei 2024 23:13 WIB
  •  Bandung

KBRN, Cianjur : Sebanyak 244 orang yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Cianjur, Serikat Pekerja Nasional (SPN) angkat bicara lantaran dua perusahaan mengalami kebangkrutan.

Padahal kabar tersebut sebelumnya sudah disampaikan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Cianjur.

Adapun perusahaan tersebut yaitu PT Transplants Indonesia beralamat di Kampung Garung, RT01/RW03, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang melakukan PHK kepada 26 karyawan dan PT Peternakan Ayam Manggis di wilayah Kecamatan Mande melakukan PHK kepada 218 karyawannya.

Ketua SPN Cianjur Hendra Malik mengatakan, PHK merupakan akal-akalan para pengusaha agar tidak mengeluarkan uang pesangon. Hal itu diperkuat dengan adanya Undang-Undang Ciptakerja.

"Seperti di PT Manggis karyawannya sudah tetap, puluhan tahun bekerja, dengan demikian usia pensiun untuk hitungan pesangon sangat besar. Dijadikan kesempatan oleh perusahaan melakukan pemutihan, dipangkas karyawan tetap untuk diganti menjadi karyawan kontrak," kata Hendra Malik, Sabtu, (25/05/24)

Selain itu, Hendra juga menyoroti statemen dari Disnakertrans Cianjur yang menyatakan dua perusahaan tersebut bangkrut tanpa bukti-bukti.

"Untuk penutupan alasan bangkrut atau pailit bisa tidak dibuktikan dengan putusan pengadilan, karena tidak bisa menyatakan sepihak, proses normatifnya ditempuh atau tidak,"ungkapnya

Dengan adanya permasalahan tersebut, Hendra khawatir kembali terjadi adanya perusahaan yang kabur setelah mendapatkan keuntungan besar dengan meninggalkan hak-hak karyawannya.

"Jangan sampai terulang ada perusahaan PT Icon Garmindo yang mana merupakan perusahaan PMA atau milik orang asing itu akhirnya pergi mengeruk keuntungan hingga miliaran dan hak-hak pekerjaanya sampai sekarang tidak diberikan," tegasnya

Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jamsostek Disnakertrans Cianjur, Yani Yuliawati membenarkan, dua perusahaan di Cianjur mengalami kebangkrutan sehingga terpaksa melakukan PHK para karyawannya.

"Baru dua perusahaan yang menyampaikan informasi jika mereka tutup operasional. Alasannya merugi terus, jadi tidak bisa beroperasi lagi," kata Yani

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....