Bakti Barito Bangun Ruang Kelas Berbahan Baku Sampah Plastik
- 30 Sep 2026 16:07 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Garut – Yayasan Bakti Barito terus berinovasi dalam membangun insfratruktur jalan maupun gedungan sekolah. Kali ini secara resmi yayasan tersebut membangun ruang gedung sekolah dan bangunan toilet yang pertama kalinya menggunakan berbahan dasar sampah plastik.
Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A. Purbasari, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berawal dari kebutuhan SDN 3 Sukanegla yang kekurangan ruang kelas akibat jumlah siswa yang terus bertambah. Rencana pembangunan sebelumnya juga sempat tertunda karena beberapa kali terdampak gempa bumi.
Dari kebutuhan tersebut, yayasan berkolaborasi dengan para mitra melalui program Green Guardians untuk pendidikan perubahan iklim. Salah satu wujudnya adalah menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang dapat disaksikan langsung oleh anak-anak, sehingga mereka memahami bahwa sampah memiliki nilai guna.
"Jadi anak-anak bisa melihat bahwa sekolahnya dia itu dari sampah. Jadi artinya bahwa sampah itu sesuatu yang bernilai. Dari pemikiran itulah kita bekerja sama dengan para mitra, membangun sekolah dari sampah yang bernilai rendah. Sampah yang selama ini ada di TPA dan atau bocor ke laut," katanya, di Garut, Rabu, 30 September 2026.
Proyek tersebut berhasil mengumpulkan total 18 ton sampah plastik bernilai rendah yang selama ini luput dari pengelolaan pemulung.
Sebelum memulai konstruksi, pihak yayasan memastikan aspek keamanan dan kekuatan bangunan telah diuji. Mereka menggandeng Universitas Garut serta laboratorium Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melaksanakan serangkaian uji laboratorium guna mendapatkan izin resmi pembangunan sekolah.
"Nah sebelum kita membangun tentunya kita melakukan uji-uji laboratorium, kita bekerja sama dengan Universitas Garut dan juga lab dari Dinas PUPR kita melakukan rangkaian pengujian untuk bisa mendapatkan izin membangun sekolah ini," tuturnya.
Selain ramah lingkungan dan kokoh, Dian menegaskan bahwa biaya produksi material tersebut diupayakan setara dengan bahan bangunan konvensional.
"Nah kita harapkan dengan ongkos produksi yang setara dengan konvensional dengan yang sekarang sudah ada, kita berharap bahwa ini bisa digunakan oleh masyarakat secara luas," lanjutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....