Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk Ekosistem Ekonomi Digital Blockchain
- 16 Sep 2026 15:43 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung menjadikan pengembangan Bandung Angkot Utama sebagai salah satu pintu masuk dalam membangun ekosistem ekonomi digital berbasis blockchain di Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan pengembangan ekosistem tersebut dimulai dari sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, salah satunya transportasi publik melalui penerapan kendaraan listrik yang mendukung sistem Bus Rapid Transit (BRT).
“Kota Bandung sedang membangun digital economy ecosystem berbasis blockchain. Ada enam pelaku yang terlibat. Entry point-nya adalah implementasi ekosistem transportasi listrik yang mendukung BRT,” ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Rabu 16 September 2026.
Menurut Farhan, ekosistem transportasi listrik tidak hanya mencakup penyediaan kendaraan. Ekosistem tersebut meliputi kendaraan, baterai, pemeliharaan kendaraan dan baterai, aspek keselamatan, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), hingga penyediaan suku cadang.
Bandung Angkot Utama nantinya menjadi bagian dari konektivitas transportasi Kota Bandung yang menghubungkan berbagai moda transportasi, mulai dari kereta cepat, kereta antarkota, jalan tol, penerbangan, BRT, hingga angkot listrik sebagai angkutan pengumpan atau feeder.
“Ini bagian dari konektivitas Bandung, dari high speed rail, kereta antarkota, jalan tol, penerbangan, BRT, dan electric angkot sebagai feeder,” katanya.
Farhan menegaskan, Pemkot Bandung tidak akan mengambil posisi sebagai pelaku usaha dalam pengadaan armada. Pengadaan kendaraan dilakukan oleh Koperasi Angkutan Masyarakat (Kopamas) melalui Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) atau penyedia kendaraan.
Sementara itu, pemerintah kota berperan dalam memberikan perizinan sekaligus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program.
“Pemerintah tidak boleh berbisnis. Jadi pengadaannya oleh Kopamas, membeli dari ATPM atau provider. Pemerintah hanya memberikan izin dan melakukan enforcement,” ucapnya.
Farhan juga memastikan transformasi menuju kendaraan listrik tidak ditujukan untuk menghilangkan mata pencaharian pengemudi angkot yang selama ini beroperasi. Kendaraan listrik menjadi bagian dari proses peremajaan armada, sementara pengemudinya tetap berasal dari pengemudi angkot yang sudah ada.
“Angkot listrik ini tidak menggerus angkot yang sudah ada. Ini mengganti atau melakukan peremajaan kendaraan yang sudah ada. Sopirnya tetap pemain lama,” katanya.
Selain perubahan kendaraan, pola kerja pengemudi juga akan disesuaikan. Dengan menerapkan sistem pengemudi bergaji, pemerintah berharap pelayanan transportasi dapat lebih teratur dan tidak lagi berorientasi pada kejar setoran. Kebiasaan kendaraan mengetem juga diharapkan dapat dikurangi.
Bandung Angkot Utama ditetapkan memiliki tarif Rp7.000 sesuai ketentuan yang berlaku dengan sistem pembayaran nontunai. Armada juga dirancang dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti pendingin udara, Wi-Fi, kamera pengawas atau CCTV, serta kursi prioritas bagi penyandang disabilitas.
Sedamgkan Ketua Kopamas Kota Bandung, Budi Kurnia, mengatakan pihaknya siap menjadi bagian dari proses peremajaan angkutan kota melalui penggunaan kendaraan listrik.
Kopamas saat ini memiliki sekitar 475 unit angkutan. Dari jumlah tersebut, dua unit kendaraan listrik telah digunakan dalam tahap ucapnya.
Salah satu kendaraan listrik tersebut bahkan telah mendapatkan izin untuk masuk dan beroperasi di kawasan Bandara Internasional Husein Sastranegara. Kendaraan itu telah menjalani operasional selama sekitar satu bulan.
Budi mengatakan, penggunaan kendaraan listrik akan dilakukan secara bertahap dengan target jangka panjang seluruh armada Kopamas dapat beralih menggunakan kendaraan listrik.
Untuk mendukung operasional, armada akan menggunakan sistem pool. Kendaraan ditempatkan di lokasi tertentu untuk kebutuhan pengisian daya dan pemeliharaan, sehingga pengelolaan armada dapat dilakukan secara lebih terpusat.
Pemkot Bandung bersama Kopamas juga akan melakukan pemetaan lokasi SPKLU yang dibutuhkan untuk mendukung operasional kendaraan listrik.
Sementara itu, CEO PT Sinergi Satu Daya, Sean Justin, mengatakan pengembangan Bandung Angkot Utama tidak berhenti pada penyediaan kendaraan. Menurutnya, dibutuhkan ekosistem pendukung dari sektor hulu hingga hilir.
Melalui Famindo Group, pihaknya berperan sebagai lead integrator dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Peran tersebut mencakup penyusunan cetak biru transisi kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik hingga penyediaan infrastruktur pengisian daya.
Dalam pengembangan armada di Kota Bandung, Famindo bekerja sama dengan Indomobil Photon untuk penyediaan kendaraan yang digunakan dalam operasional.
Sean mengatakan aspek keselamatan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan kendaraan listrik, mengingat kendaraan menggunakan baterai lithium yang membutuhkan penanganan khusus apabila terjadi insiden.
Karena itu, teknologi keselamatan dan mitigasi risiko baterai menjadi bagian dari ekosistem yang sedang disiapkan.
Sean menegaskan, kolaborasi tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi awal dari penyusunan rencana aksi dan implementasi yang terukur, termasuk mitigasi risiko dalam pengoperasian kendaraan listrik.
Founder sekaligus Chairman Indonesia Real World Asset Tokenization Association (Irwata), Sabdo Yusminartiarto, mengatakan keterlibatan sektor swasta diperlukan agar gagasan pengembangan Bandung sebagai kawasan keuangan dan ekonomi digital dapat diwujudkan secara konkret.
Menurut Sabdo, pernyataan Pemkot Bandung mengenai pengembangan Bandung sebagai bagian dari pusat keuangan internasional perlu diikuti keterlibatan dunia usaha serta langkah implementasi yang jelas.
Ia menyebut teknologi blockchain dapat menjadi salah satu infrastruktur baru untuk membangun sistem ekonomi yang lebih terbuka dan terdigitalisasi, termasuk melalui pengembangan aset yang ditokenisasi.
Sabdo juga menyebut pengembangan instrumen seperti stablecoin rupiah atau NIDR sebagai salah satu peluang yang dapat dikembangkan dalam ekosistem ekonomi digital Indonesia.
“Kota Bandung tidak cukup hanya mengatakan ingin menjadi PFI. Harus ada proposal yang solid kepada pemerintah pusat bahwa Bandung memang siap,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....